Soekarno adalah tokoh perjuangan yang berperan penting dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari pengaruh kolonialisme Belanda. Ia adalah presiden pertama Indonesia yang menjabat dari tahun 1945 hingga 1967. Ia juga dikenal sebagai orator, revolusioner, dan nasionalis yang memimpin gerakan non-blok dan konfrontasi dengan Malaysia.
Kehidupan Awal
Soekarno lahir pada tanggal 6 Juni 1901 di Soerabaja, Hindia Belanda (sekarang Surabaya, Indonesia) dengan nama Koesno Sosrodihardjo. Ia adalah anak tunggal dari seorang guru Jawa bernama Soekemi Sosrodihardjo dan seorang ibu Bali bernama Ida Ayu Nyoman Rai. Nama Soekarno diberikan kepadanya setelah ia mengalami serangkaian penyakit saat kecil. Ia menempuh pendidikan di sekolah-sekolah Belanda dan lulus sebagai insinyur dari Institut Teknologi Bandung pada tahun 1926.
Perjuangan Kemerdekaan
Soekarno mulai aktif dalam gerakan nasionalis sejak mahasiswa. Ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1927 yang menuntut kemerdekaan dari Belanda. Ia juga menjadi salah satu pendiri Persatuan Perjuangan (PP) pada tahun 1930 yang menggabungkan berbagai organisasi pergerakan nasional. Karena aktivitasnya yang dianggap subversif, ia ditangkap oleh pemerintah kolonial dan diasingkan ke berbagai tempat seperti Flores, Bengkulu, dan Sumatera Utara.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), Soekarno bekerja sama dengan pihak Jepang untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Ia menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang menyusun dasar-dasar negara Indonesia, termasuk Pancasila sebagai ideologi negara. Pada tanggal 17 Agustus 1945, bersama dengan Mohammad Hatta, ia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta.
Pemerintahan
Soekarno menjadi presiden pertama Indonesia yang menghadapi berbagai tantangan dalam mempertahankan kemerdekaan dan membangun negara baru. Ia menghadapi perang kemerdekaan melawan Belanda (1945-1949), pemberontakan regional seperti APRA, Ambon, Permesta, dan DI/TII, serta konflik politik antara partai-partai dan golongan-golongan dalam negeri. Ia juga mengembangkan doktrin Marhaenisme sebagai dasar sosialisme Indonesia dan Demokrasi Terpimpin sebagai sistem pemerintahan yang otoriter namun inklusif.
Dalam bidang luar negeri, Soekarno dikenal sebagai salah satu pendiri gerakan non-blok yang menentang imperialisme dan kolonialisme. Ia juga menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955 yang merupakan pertemuan pertama antara negara-negara Asia dan Afrika yang baru merdeka atau sedang berjuang untuk merdeka. Selain itu, ia juga berupaya untuk menyatukan wilayah-wilayah yang dianggap sebagai bagian dari Indonesia, seperti Irian Barat (sekarang Papua) yang berhasil direbut dari Belanda melalui operasi Trikora dan Pepera pada tahun 1963-1969.
Kejatuhan
Pada akhir tahun 1950-an hingga awal tahun 1960-an, Soekarno semakin mendekatkan diri dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang merupakan partai terbesar di Indonesia saat itu. Ia juga semakin menjauhkan diri dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang merupakan pilar utama pemerintahannya. Hal ini menimbulkan ketegangan dan ketidakpuasan di kalangan militer dan golongan anti-komunis.
Pada tanggal 30 September 1965, terjadi percobaan kudeta yang diduga dilakukan oleh PKI yang dikenal sebagai Gerakan 30 September (G30S). Dalam peristiwa ini, enam jenderal ABRI tewas dibunuh oleh sekelompok perwira militer yang mengaku sebagai Dewan Revolusi. Soekarno, yang saat itu berada di Bogor, tidak terlibat dalam peristiwa ini, tetapi ia juga tidak mengutuknya secara tegas. Hal ini membuatnya dicurigai sebagai dalang atau pendukung G30S.
Akibat dari G30S, terjadi pembalasan dan pembersihan massal terhadap anggota dan simpatisan PKI oleh ABRI dan kelompok-kelompok anti-komunis. Jumlah korban tewas diperkirakan antara 500 ribu hingga 3 juta orang. Soekarno sendiri semakin kehilangan dukungan dan legitimasi sebagai presiden. Pada tanggal 11 Maret 1966, ia dipaksa untuk menandatangani Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang memberikan wewenang kepada Jenderal Soeharto, panglima ABRI saat itu, untuk mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mengamankan negara. Supersemar menjadi dasar bagi Soeharto untuk membubarkan PKI, membentuk kabinet baru tanpa keterlibatan Soekarno, dan akhirnya menggulingkan Soekarno dari jabatan presiden pada tahun 1967.
Kematian dan Warisan
Setelah digantikan oleh Soeharto, Soekarno hidup dalam pengasingan di Wisma Yaso, Jakarta. Ia menderita berbagai penyakit, termasuk gangguan ginjal yang menyebabkan kematiannya pada tanggal 21 Juni 1970. Jenazahnya dimakamkan di Bendogerit, Blitar, Jawa Timur.
Soekarno adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Ia dihormati sebagai Bapak Bangsa dan Proklamator Kemerdekaan Indonesia. Ia juga meninggalkan banyak karya arsitektur dan monumen yang menjadi simbol nasionalisme Indonesia, seperti Monumen Nasional (Monas), Stadion Gelora Bung Karno, dan Gedung GANEFO. Namanya juga diabadikan dalam nama-nama bandar udara, jalan raya, universitas, dan lain-lain.
Meskipun demikian, Soekarno juga menuai banyak kritik dan kontroversi atas kebijakan-kebijakannya yang dianggap otoriter, korup, nepotis, dan gagal dalam mengatasi masalah-masalah ekonomi dan sosial di Indonesia. Ia juga dituduh sebagai pengkhianat bangsa karena diduga terlibat dalam G30S dan mendukung PKI. Selama masa pemerintahan Soeharto (1967-1998), Soekarno menjadi sasaran de-Soekarnoisasi yang bertujuan untuk menghapus jejak-jejak dan pengaruhnya dalam sejarah dan masyarakat Indonesia.
Referensi
¹: https://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno
²: https://en.wikipedia.org/wiki/Sukarno
³: https://www.britannica.com/biography/Sukarno.