Kesultanan Gowa Tallo, yang terletak di Sulawesi Selatan, merupakan salah satu kerajaan besar di Nusantara dengan sejarah yang kaya dan kompleks. Untuk memahami perjalanan dan perkembangan kesultanan ini, para sejarawan mengandalkan berbagai sumber sejarah yang memberikan gambaran mendalam tentang kehidupan politik, sosial, ekonomi, dan budaya pada masa itu. Berikut adalah beberapa sumber utama yang menjadi rujukan dalam mempelajari sejarah Kesultanan Gowa Tallo:
1. Lontarak
Lontarak adalah manuskrip tradisional yang ditulis dalam aksara Bugis-Makassar. Dokumen-dokumen ini mencatat berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk silsilah raja-raja, hukum adat, peristiwa penting, dan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun. Lontarak menjadi sumber primer yang sangat berharga dalam merekonstruksi sejarah Kesultanan Gowa Tallo.
2. Catatan Sejarah dan Kronik
Selain lontarak, terdapat kronik lokal yang mencatat peristiwa penting dalam sejarah kesultanan. Kronik ini mencakup informasi tentang silsilah raja-raja Gowa Tallo, peperangan, perjanjian politik, dan hubungan diplomatik dengan kerajaan lain. Catatan semacam ini membantu sejarawan memahami dinamika politik dan sosial pada masa itu.
3. Manuskrip Islam
Setelah masuknya Islam ke wilayah Gowa Tallo pada awal abad ke-17, banyak teks keagamaan yang ditulis dalam bahasa Arab dan lokal. Manuskrip ini mencakup ajaran agama, hukum Islam, dan praktik keagamaan yang diadopsi oleh masyarakat. Sumber-sumber ini memberikan wawasan tentang proses islamisasi dan pengaruhnya terhadap struktur sosial dan politik kesultanan.
4. Sumber Asing
Catatan dari penjelajah, pedagang, dan misionaris Eropa yang mengunjungi wilayah Gowa Tallo pada abad ke-16 dan 17 juga menjadi sumber informasi penting. Mereka mencatat observasi tentang kehidupan sehari-hari, struktur pemerintahan, aktivitas perdagangan, dan interaksi dengan bangsa asing. Meskipun perlu ditafsirkan dengan hati-hati karena bias budaya, catatan ini menambah perspektif dalam memahami sejarah kesultanan.
5. Tradisi Lisan
Masyarakat Makassar memiliki tradisi lisan yang kuat, dengan cerita dan legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kisah-kisah tentang tokoh-tokoh legendaris seperti Sultan Hasanuddin, yang dijuluki “Ayam Jantan dari Timur”, memberikan gambaran tentang nilai-nilai, kepercayaan, dan pandangan dunia masyarakat pada masa itu.
6. Sumber Arkeologis
Penemuan artefak dan situs arkeologis di wilayah Makassar dan sekitarnya, seperti Benteng Somba Opu dan Benteng Rotterdam, memberikan bukti fisik tentang kehidupan pada masa Kesultanan Gowa Tallo. Situs-situs ini menunjukkan perkembangan arsitektur, teknologi, dan interaksi dengan bangsa asing.
Dengan menggabungkan berbagai sumber di atas, sejarawan dapat membangun narasi yang komprehensif tentang sejarah Kesultanan Gowa Tallo, memahami dinamika internalnya, serta perannya dalam sejarah Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.