Menu Tutup

Tindakan Sosial, Interaksi Sosial, dan Identitas

Tindakan Sosial

Tindakan sosial adalah tindakan yang mengandung makna ketika individu berhubungan dengan individu lain di mana hasil tindakan tersebut memengaruhi perilaku orang lain1. Tindakan sosial merupakan salah satu konsep pokok dalam sosiologi yang dikemukakan oleh Max Weber. Menurut Weber, tindakan hanya dapat dikategorikan sebagai tindakan sosial manakala tindakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan dan berorientasi pada perilaku orang lain1. Contoh tindakan sosial adalah menyapa tetangga, memberi sedekah, atau berdemo.

Weber membedakan empat tipe tindakan sosial yang dibedakan berdasarkan konteks motif para pelakunya12:

  • Tindakan rasionalitas instrumental, yaitu tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan praktis yang didasarkan pada kesesuaian antara tujuan serta ketersediaan alat yang digunakan untuk mencapainya (berorientasi tujuan). Contoh: menabung, berinvestasi, atau bekerja.
  • Tindakan rasional nilai, yaitu tindakan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan nilai seperti etika, estetika, moral, dan religi. Contoh: beribadah, berderma, atau berkarya seni.
  • Tindakan afektif, yaitu tindakan yang dilakukan berdasarkan perasaan atau emosi yang sedang dialami oleh pelaku. Contoh: marah, cemburu, atau bahagia.
  • Tindakan tradisional, yaitu tindakan yang dilakukan berdasarkan kebiasaan atau adat istiadat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Contoh: mengikuti upacara adat, menjalankan pantangan, atau mematuhi norma.

Interaksi Sosial

Interaksi sosial adalah proses terjadinya aksi dan reaksi (timbal balik) dari kedua belah pihak, baik antarindividu, individu dengan kelompok, maupun antarkelompok34. Interaksi sosial merupakan syarat utama terbentuknya masyarakat dan hubungan sosial. Tanpa interaksi sosial, tidak mungkin terjadi kerjasama, komunikasi, konflik, integrasi, maupun diferensiasi sosial.

Interaksi sosial dapat dibedakan menjadi dua jenis4:

  • Interaksi sosial primer, yaitu interaksi yang bersifat langsung, intensif, penuh perhatian, dan melibatkan seluruh kepribadian pelaku. Contoh: interaksi antara keluarga, sahabat, atau pasangan.
  • Interaksi sosial sekunder, yaitu interaksi yang bersifat tidak langsung, tidak intensif, kurang perhatian, dan hanya melibatkan sebagian kepribadian pelaku. Contoh: interaksi antara penjual dan pembeli, guru dan murid, atau dokter dan pasien.

Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi sosial antara lain14:

  • Kontak sosial, yaitu pertemuan awal antara pelaku interaksi yang dapat bersifat fisik (seperti tatap muka) atau nonfisik (seperti melalui media).
  • Komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan atau informasi antara pelaku interaksi yang dapat bersifat verbal (seperti lisan atau tulisan) atau nonverbal (seperti gerak tubuh atau simbol).
  • Kerjasama, yaitu proses bekerja sama antara pelaku interaksi untuk mencapai tujuan bersama dengan saling memberi dan menerima bantuan.
  • Persaingan, yaitu proses berkompetisi antara pelaku interaksi untuk memperebutkan sesuatu yang diinginkan dengan mengandalkan kemampuan sendiri.
  • Konflik, yaitu proses bertentangan antara pelaku interaksi yang disebabkan oleh perbedaan kepentingan, nilai, atau pandangan yang dapat bersifat terbuka (seperti perang atau pemogokan) atau tertutup (seperti dendam atau iri hati).
  • Akulturasi, yaitu proses penyerapan budaya antara pelaku interaksi yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda sehingga terjadi perubahan atau perkembangan budaya.
  • Asimilasi, yaitu proses penyatuan budaya antara pelaku interaksi yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda sehingga terjadi keseragaman budaya.
  • Akomodasi, yaitu proses penyesuaian diri antara pelaku interaksi yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda sehingga terjadi keseimbangan dan kerukunan sosial.

Identitas

Identitas adalah ciri khas atau karakteristik yang membedakan seseorang atau kelompok dari yang lain1. Identitas dapat bersifat pribadi (seperti nama, jenis kelamin, atau hobi) atau sosial (seperti suku, agama, atau profesi). Identitas juga dapat bersifat tetap (seperti ras, etnis, atau golongan darah) atau berubah (seperti status, pendidikan, atau pekerjaan).

Identitas dibentuk melalui proses sosialisasi dan interaksi sosial dengan lingkungan sekitar1. Seseorang dapat memiliki lebih dari satu identitas sesuai dengan konteks dan situasi yang dihadapi. Misalnya, seseorang dapat memiliki identitas sebagai anak, pelajar, atlet, muslim, dan Indonesia secara bersamaan.

Identitas sosial memiliki konsekuensi bagi individu maupun kelompok1. Konsekuensi tersebut antara lain:

  • Eksklusi, yaitu proses pengecualian atau pemisahan individu atau kelompok dari lingkungan sosial karena perbedaan identitas. Contoh: diskriminasi, marginalisasi, atau pengucilan.
  • Inklusi, yaitu proses penerimaan atau penyatuan individu atau kelompok ke dalam lingkungan sosial karena kesamaan identitas. Contoh: solidaritas, toleransi, atau integrasi.

Sumber:
(1) Pengertian Tindakan Sosial, Interaksi Sosial dan Identitas … – Nakita. https://nakita.grid.id/read/023591668/pengertian-tindakan-sosial-interaksi-sosial-dan-identitas-lengkap.
(2) Tindakan Sosial, Interaksi Sosial dan Identitas, Pengertian – WISLAH. https://wislah.com/tindakan-sosial-interaksi-sosial-dan-identitas-pengertian/.
(3) jelaskan hubungan antara tindakan sosial , interak… – Roboguru. https://roboguru.ruangguru.com/forum/jelaskan-hubungan-antara-tindakan-sosial-interaksi-sosial-dan-identitas-sosial_FRM-8CHTT8B8.
(4) Ringkasan Materi Tindakan dan Interaksi Sosial. https://ringkasanku.com/tindakan-dan-interaksi-sosial/.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya