Memandang Tinggi Kedudukan Ilmu dan Ulama

Dituturkan oleh Imam al-Khattabi, “Aku bersama Abu Dawud tinggal di Baghdad. Pada suatu ketika, selesai menunaikan Shalat Magrib, datang Amir Abu Ahmad al-Muwaffaq. Abu Dawud menemuinya seraya berkata: “Apakah gerangan yang membawamu datang ke sini, pada saat seperti ini?”

“Tiga kepentingan”, jawab Amir. “Kepentingan apa?” tanyanya.

Amir menjelaskan, “Hendaknya tuan berpindah ke Baṣrah dan menetap di sana, supaya para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia datang belajar kepada tuan. Dengan demikian Baṣrah akan makmur kembali”.

Abu Dawud berkata: “Itu yang pertama, sebutkan yang kedua!”

“Hendaknya tuan berkenan mengajarkan kitab Sunan kepada putra-putraku”, kata Amir.

“Ya, ketiga?” Tanya Abu Dawud kembali. Amir menerangkan: “Hendaknya tuan mengadakan majelis tersendiri, mengajarkan Hadiṡ kepada putra-putra khalifah, sebab mereka tidak mau duduk bersama-sama dengan orang umum”.

”Abu Dawud menjawab: “Permintaan ketiga tidak dapat aku penuhi; sebab manusia itu dalam bidang ilmu sama, baik pejabat terhormat maupun rakyat melarat.”

Ibnu Jabir menjelaskan: “Maka sejak itu putra-putra khalifah hadir dan duduk bersama di majelis taklim.