Pergerakan nasional Indonesia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan dari penjajahan Belanda. Pergerakan nasional terjadi dalam kurun waktu 1908-1945, yang dibagi menjadi tiga periode, yaitu:
- Periode pembentukan (1908-1920)
- Periode radikal atau non-kooperatif (1920-1930)
- Periode bertahan atau moderat (1930-1942)
Periode nasionalisme politik adalah periode kedua dalam pergerakan nasional, yang ditandai dengan munculnya organisasi-organisasi pergerakan yang bersikap radikal dan menentang kerjasama dengan pemerintah kolonial. Periode ini juga disebut sebagai periode puncak pergerakan nasional, karena banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting yang mempengaruhi sejarah Indonesia.
Latar Belakang Munculnya Nasionalisme Politik
Nasionalisme politik adalah paham yang menekankan pentingnya kemerdekaan politik sebagai tujuan utama perjuangan bangsa. Nasionalisme politik muncul sebagai reaksi terhadap kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap politik etis yang dicanangkan oleh Belanda pada akhir abad ke-19. Politik etis adalah kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pribumi melalui tiga program, yaitu irigasi, edukasi, dan imigrasi. Namun, dalam pelaksanaannya, politik etis tidak memberikan dampak yang signifikan bagi rakyat pribumi, bahkan menimbulkan masalah-masalah baru, seperti:
- Irigasi tidak hanya dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil pertanian rakyat, tetapi juga untuk memaksimalkan produksi tanaman komersial milik Belanda, seperti tebu, kopi, dan karet.
- Edukasi tidak memberikan kesempatan yang sama bagi semua lapisan masyarakat pribumi untuk mendapatkan pendidikan. Hanya kalangan priyayi dan golongan menengah yang dapat mengenyam pendidikan tinggi di sekolah-sekolah Belanda. Selain itu, pendidikan yang diberikan juga tidak sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi bangsa Indonesia, melainkan lebih mengutamakan kepentingan Belanda.
- Imigrasi menyebabkan terjadinya pemindahan penduduk dari daerah padat penduduk ke daerah kurang penduduk, terutama di luar Jawa. Hal ini menimbulkan konflik sosial antara penduduk asli dan pendatang, serta merusak keseimbangan ekologi.
Faktor-faktor lain yang memicu munculnya nasionalisme politik adalah:
- Kemenangan Jepang atas Rusia pada tahun 1905, yang memberikan inspirasi bagi bangsa-bangsa Asia bahwa mereka dapat mengalahkan negara-negara Barat.
- Kebangkitan nasional di negara-negara tetangga, seperti India, Turki, Cina, dan Filipina, yang menunjukkan semangat perlawanan terhadap penjajahan.
- Pengaruh paham-paham baru dari Barat, seperti sosialisme, komunisme, demokrasi, dan liberalisme, yang memberikan pandangan baru tentang hak-hak politik dan sosial bagi rakyat.
Organisasi-Organisasi Nasionalisme Politik
Periode nasionalisme politik ditandai dengan munculnya organisasi-organisasi pergerakan yang bersifat radikal dan non-kooperatif dengan pemerintah kolonial. Beberapa organisasi pergerakan yang termasuk dalam kelompok ini adalah:
- Indische Partij (IP), didirikan oleh E.F.E. Douwes Dekker (D.D), Ki Hajar Dewantara (R.M Suwardi Suryaningrat), dan Dr. Cipto Mangunkusumo pada tahun 1912. IP adalah partai politik pertama di Indonesia yang beranggotakan orang-orang berdarah campuran (Indo) dan pribumi. IP menuntut kemerdekaan Indonesia dari Belanda dalam waktu 15 tahun, dengan cara mengadakan referendum rakyat. IP juga menolak sistem pemerintahan kolonial yang diskriminatif dan menyerukan persatuan antara semua golongan di Indonesia.
- Sarekat Islam (SI), didirikan oleh H.O.S. Tjokroaminoto pada tahun 1912. SI awalnya adalah organisasi dagang yang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI), yang dibentuk oleh pedagang-pedagang batik dari Solo. Namun, karena mendapat dukungan dari banyak kalangan, termasuk ulama, pegawai, dan petani, SDI berubah menjadi SI, yang merupakan organisasi politik dan sosial yang berbasis Islam. SI menuntut penghapusan monopoli perdagangan oleh Belanda, pengakuan hak-hak politik bagi pribumi, dan peningkatan kesejahteraan rakyat. SI juga menggalang persatuan antara umat Islam di Indonesia.
- Perhimpunan Indonesia (PI), didirikan oleh para mahasiswa Indonesia yang belajar di Belanda pada tahun 1923. PI adalah organisasi pergerakan pertama yang menggunakan nama Indonesia sebagai identitas bangsa. PI menuntut kemerdekaan Indonesia dari Belanda secara damai, dengan cara mengadakan perundingan antara wakil-wakil rakyat Indonesia dan Belanda. PI juga mengembangkan kesadaran nasional dan kultural di kalangan pemuda Indonesia, dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan seperti diskusi, seminar, penerbitan majalah, dan pembentukan cabang-cabang di berbagai daerah.
- Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV), didirikan oleh Henk Sneevliet pada tahun 1914. ISDV adalah organisasi pergerakan yang menganut paham sosialisme dan komunisme. ISDV menentang penjajahan Belanda dan kapitalisme, serta menyerukan revolusi sosial bagi rakyat Indonesia. ISDV juga berusaha menyebarkan paham-paham baru dari Barat kepada rakyat Indonesia, dengan cara menerbitkan surat kabar, buku-buku, dan pamflet-pamflet. ISDV kemudian berubah nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1920.
Peristiwa-Peristiwa Penting dalam Periode Nasionalisme Politik
Periode nasionalisme politik juga disebut sebagai periode puncak pergerakan nasional, karena banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting yang mempengaruhi sejarah Indonesia. Beberapa peristiwa tersebut adalah:
- Kongres Pemuda I dan II, diselenggarakan pada tahun 1926 dan 1928. Kongres Pemuda I merupakan pertemuan antara berbagai organisasi pemuda di Indonesia, yang bertujuan untuk membahas masalah-masalah yang dihadapi oleh pemuda Indonesia, seperti pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Kongres Pemuda II merupakan kelanjutan dari Kongres Pemuda I, yang bertujuan untuk menyatukan semangat perjuangan pemuda Indonesia. Pada Kongres Pemuda II, dihasilkan dua keputusan penting, yaitu Sumpah Pemuda dan Lagu Indonesia Raya. Sumpah Pemuda adalah ikrar kesetiaan kepada tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia. Lagu Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Indonesia yang diciptakan oleh W.R Supratman.
- Peristiwa-peristiwa komunis, terjadi pada tahun 1926-1927. Peristiwa-peristiwa komunis adalah serangkaian pemberontakan yang dilakukan oleh PKI dan sayap-sayapnya di berbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Pemberontakan ini dipicu oleh ketidakpuasan terhadap kondisi sosial dan ekonomi rakyat yang semakin buruk akibat penjajahan Belanda. Tujuan pemberontakan ini adalah untuk menggulingkan pemerintahan kolonial dan mendirikan Republik Sosialis Indonesia. Namun, pemberontakan ini berhasil dipadamkan oleh Belanda dengan cara melakukan penangkapan, penembakan, pengasingan, dan pengadilan terhadap para pemimpin dan anggota PKI,
- Peristiwa-peristiwa nasionalis, terjadi pada tahun 1930-1933. Peristiwa-peristiwa nasionalis adalah serangkaian perlawanan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi nasionalis, seperti IP, SI, PI, dan Partai Nasional Indonesia (PNI), terhadap pemerintah kolonial. Perlawanan ini dipicu oleh kebijakan-kebijakan represif yang diterapkan oleh Belanda, seperti larangan berkumpul, pembubaran organisasi-organisasi pergerakan, penangkapan dan pengasingan para pemimpin pergerakan, serta pemberlakuan undang-undang darurat. Tujuan perlawanan ini adalah untuk mempertahankan hak-hak politik dan sosial rakyat Indonesia, serta menuntut kemerdekaan Indonesia dari Belanda. Namun, perlawanan ini juga berhasil dipadamkan oleh Belanda dengan cara yang sama seperti peristiwa-peristiwa komunis.
- Pergerakan rakyat di luar Jawa, terjadi pada tahun 1930-an. Pergerakan rakyat di luar Jawa adalah gerakan-gerakan yang dilakukan oleh rakyat di daerah-daerah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua, yang terinspirasi oleh pergerakan nasional di Jawa. Gerakan-gerakan ini beragam bentuk dan tujuannya, mulai dari gerakan sosial, agama, adat, hingga politik. Beberapa contoh gerakan rakyat di luar Jawa adalah:
- Gerakan Pemuda Minangkabau (GPM), yang didirikan oleh Mohammad Hatta pada tahun 1927. GPM adalah organisasi pemuda yang berbasis di Sumatera Barat, yang bertujuan untuk meningkatkan pendidikan dan kesejahteraan rakyat Minangkabau, serta mengembangkan kesadaran nasional dan kultural.
- Gerakan Sarekat Rakyat (SR), yang didirikan oleh Tan Malaka pada tahun 1930. SR adalah organisasi politik yang berbasis di Sumatera Timur, yang bertujuan untuk menggalang persatuan antara rakyat pribumi dan Tionghoa, serta menentang penjajahan Belanda dan kapitalisme.
- Gerakan Pemberontakan Aceh (GPA), yang dipimpin oleh Teuku Umar pada tahun 1933. GPA adalah gerakan militer yang berbasis di Aceh, yang bertujuan untuk membebaskan Aceh dari penjajahan Belanda dan mendirikan Negara Islam Aceh.
- Gerakan Pemberontakan Banten (GPB), yang dipimpin oleh Kyai Hasan Besari pada tahun 1933. GPB adalah gerakan agama yang berbasis di Banten, yang bertujuan untuk menegakkan syariat Islam dan menolak campur tangan Belanda dalam urusan keagamaan.
- Gerakan Pemberontakan Bali (GPB), yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai pada tahun 1936. GPB adalah gerakan adat yang berbasis di Bali, yang bertujuan untuk mempertahankan tradisi dan budaya Bali dari pengaruh Barat.
Dampak Periode Nasionalisme Politik
Periode nasionalisme politik memiliki dampak positif dan negatif bagi pergerakan nasional Indonesia. Dampak positifnya adalah:
- Meningkatnya kesadaran nasional dan kultural di kalangan rakyat Indonesia, yang mendorong terbentuknya identitas bangsa Indonesia.
- Meningkatnya semangat perjuangan dan solidaritas antara berbagai golongan dan daerah di Indonesia, yang mendorong terciptanya persatuan nasional Indonesia.
- Meningkatnya keterampilan dan pengetahuan di kalangan pemimpin dan anggota pergerakan nasional Indonesia, yang mendorong terbentuknya kader-kader bangsa Indonesia.
Dampak negatifnya adalah:
- Menurunnya kekuatan dan pengaruh organisasi-organisasi pergerakan nasional Indonesia, akibat represi dan pembubaran oleh Belanda.
- Menurunnya moral dan motivasi perjuangan rakyat Indonesia, akibat kegagalan dan kekecewaan terhadap hasil-hasil perjuangan.
- Meningkatnya perpecahan dan konflik antara berbagai aliran dan kelompok dalam pergerakan nasional Indonesia, akibat perbedaan paham, strategi, dan tujuan perjuangan.
Kesimpulan
Periode nasionalisme politik adalah periode kedua dalam pergerakan nasional Indonesia, yang ditandai dengan munculnya organisasi-organisasi pergerakan yang bersikap radikal dan non-kooperatif dengan pemerintah kolonial. Periode ini juga disebut sebagai periode puncak pergerakan nasional, karena banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting yang mempengaruhi sejarah Indonesia. Periode ini memiliki dampak positif dan negatif bagi pergerakan nasional Indonesia, yang membentuk karakter dan arah perjuangan bangsa Indonesia.
Sumber:
(1) Pergerakan Nasional di Indonesia, Diawali Organisasi Budi Utomo. https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/30/060000269/pergerakan-nasional-di-indonesia-diawali-organisasi-budi-utomo.
(2) Pergerakan Nasional: Sejarah, Lahirnya, Masa Awal, Tujuan, Organisasi. https://www.studiobelajar.com/pergerakan-nasional/.
(3) Pengertian dan Contoh Pergerakan Nasional – Quipper Blog. https://www.quipper.com/id/blog/mapel/sejarah/pergerakan-nasional/.
(4) 6 Organisasi Pergerakan Nasional Indonesia – Kompas.com. https://www.kompas.com/skola/read/2022/08/08/130000369/6-organisasi-pergerakan-nasional-indonesia.
(5) Pengertian Pergerakan Nasional, Macam, Tujuan, dan Contohnya. https://dosenppkn.com/pergerakan-nasional/.