Buku “Filosofi Teras” karya Henry Manampiring adalah salah satu buku yang sedang populer di kalangan pembaca Indonesia, terutama anak muda. Buku ini merupakan hasil dari pengalaman dan penelitian penulis tentang filsafat Stoa atau stoisisme, sebuah aliran pemikiran yang berasal dari Yunani kuno dan masih relevan hingga saat ini. Tujuan buku ini adalah untuk memperkenalkan stoisisme kepada pembaca dan memberikan panduan praktis tentang bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pendahuluan
Di bagian pendahuluan, penulis menyampaikan latar belakang dirinya dan alasan mengapa ia tertarik dengan stoisisme. Penulis mengaku bahwa ia pernah mengalami depresi dan krisis eksistensial yang membuatnya mencari jalan keluar dari penderitaan. Ia kemudian menemukan stoisisme sebagai salah satu solusi yang efektif dan bermanfaat bagi dirinya. Penulis juga menjelaskan bahwa stoisisme bukanlah sebuah agama atau doktrin, melainkan sebuah cara pandang dan sikap hidup yang rasional, realistis, dan humanis.
Tema utama buku ini adalah stoisisme, yaitu filsafat yang mengajarkan bahwa kebahagiaan manusia terletak pada kebijaksanaan, yaitu kemampuan untuk membedakan hal-hal yang berada di luar kendali kita (seperti nasib, kesehatan, kekayaan, dll.) dengan hal-hal yang berada di dalam kendali kita (seperti pikiran, perasaan, tindakan, dll.). Stoisisme juga mengajarkan bahwa kita harus fokus pada hal-hal yang berada di dalam kendali kita dan menerima hal-hal yang berada di luar kendali kita dengan tenang dan tanpa mengeluh. Dengan demikian, kita dapat mengurangi stres, kecemasan, kemarahan, kesedihan, dan emosi negatif lainnya yang sering mengganggu kesejahteraan kita.
Buku ini relevan dan bermanfaat bagi pembaca, terutama anak muda, karena stoisisme dapat membantu kita menghadapi tantangan dan masalah yang ada di zaman modern ini. Stoisisme dapat memberikan kita pandangan yang lebih luas dan bijak tentang hidup, serta memberikan kita motivasi dan inspirasi untuk menjadi manusia yang lebih baik. Stoisisme juga dapat meningkatkan kualitas hidup kita dengan membuat kita lebih tenang, sabar, optimis, mandiri, bertanggung jawab, dan berempati.
Isi Buku
Di bagian isi buku, penulis membahas secara ringkas isi dari masing-masing bab buku, yaitu:
Bab 1: Apa itu Stoisisme?
- Di bab ini, penulis menjelaskan sejarah dan perkembangan stoisisme dari zaman Yunani kuno hingga saat ini. Penulis juga memperkenalkan tokoh-tokoh utama stoisisme, seperti Zeno dari Citium (pendiri stoisisme), Cleanthes (murid Zeno), Chrysippus (pemimpin stoa ketiga), Seneca (penulis Romawi), Epictetus (budak yang menjadi filsuf), dan Marcus Aurelius (kaisar Romawi).
- Penulis juga menjelaskan konsep-konsep dasar stoisisme, seperti logika (ilmu berpikir), fisika (ilmu alam), etika (ilmu perilaku), logos (hukum alam atau akal budi universal), eudaimonia (kebahagiaan atau kesejahteraan), arete (kebajikan atau keunggulan), prohairesis (kehendak bebas atau pilihan rasional), apatheia (ketenangan atau ketidakberpihakan), ataraxia (ketenangan jiwa atau ketidakgelisahan), oikeiosis (rasa memiliki atau keterkaitan), dll.
Bab 2: Mengapa Stoisisme?
- Di bab ini, penulis menjelaskan alasan mengapa stoisisme layak dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan kita. Penulis menunjukkan bahwa stoisisme memiliki banyak manfaat, seperti:
- Membantu kita mengatasi emosi negatif dan mengembangkan emosi positif
- Membantu kita mengendalikan diri dan menghindari kebiasaan buruk
- Membantu kita menghadapi kesulitan dan penderitaan dengan lebih baik
- Membantu kita membuat keputusan yang lebih bijak dan rasional
- Membantu kita menjadi lebih produktif dan kreatif
- Membantu kita menjadi lebih bahagia dan damai
- Penulis juga memberikan bukti-bukti ilmiah dan empiris yang mendukung klaim-klaim tersebut, seperti hasil penelitian psikologi, neurosains, ekonomi, dll. Penulis juga memberikan testimoni dari orang-orang yang telah merasakan dampak positif dari stoisisme, seperti tokoh-tokoh terkenal, atlet, pengusaha, seniman, dll.
Bab 3: Bagaimana Stoisisme Bekerja?
- Di bab ini, penulis menjelaskan mekanisme atau proses bagaimana stoisisme bekerja dalam mengubah pikiran, perasaan, dan tindakan kita. Penulis menggunakan model S-O-R (Stimulus-Organisme-Respons) untuk menjelaskan hal ini. Model ini menyatakan bahwa setiap peristiwa atau situasi yang kita hadapi (stimulus) akan memicu suatu reaksi atau respons dari diri kita (respons), yang ditentukan oleh cara kita mempersepsikan atau menilai peristiwa atau situasi tersebut (organisme).
- Penulis menekankan bahwa respons kita terhadap stimulus tidak ditentukan oleh stimulus itu sendiri, melainkan oleh persepsi atau penilaian kita terhadap stimulus tersebut. Persepsi atau penilaian kita ini dipengaruhi oleh keyakinan, asumsi, harapan, preferensi, dll. yang ada di dalam pikiran kita. Oleh karena itu, jika kita ingin mengubah respons kita terhadap stimulus, kita harus mengubah persepsi atau penilaian kita terhadap stimulus tersebut. Inilah yang dilakukan oleh stoisisme, yaitu membantu kita memperbaiki cara berpikir dan menilai hal-hal yang terjadi di sekitar kita.
Bab 4: Bagaimana Menerapkan Stoisisme?
Di bab ini, penulis memberikan panduan praktis tentang bagaimana menerapkan stoisisme dalam kehidupan sehari-hari. Penulis membagi panduan ini menjadi tiga bagian, yaitu:
Bagian pertama: Prinsip-prinsip stoisisme. Di bagian ini, penulis menyajikan beberapa prinsip atau ajaran stoisisme yang dapat dijadikan pedoman hidup, seperti:
- Hidup sesuai dengan alam atau logos
- Fokus pada hal-hal yang berada di dalam kendali kita dan menerima hal-hal yang berada di luar kendali kita
- Berlatih untuk menjadi bijaksana, berani, adil, dan pemaaf
- Menghindari keinginan dan ketakutan yang tidak rasional
- Menjaga keseimbangan antara rasionalitas dan emosionalitas
- Menjadi warga dunia yang peduli dengan kesejahteraan umat manusia
Bagian kedua: Latihan-latihan stoisisme. Di bagian ini, penulis menyajikan beberapa latihan atau praktik stoisisme yang dapat dilakukan secara rutin untuk mengembangkan kebiasaan-kebiasaan stoisik, seperti:
- Menulis jurnal harian untuk merefleksikan pikiran, perasaan, dan tindakan kita
- Melakukan meditasi pagi dan sore untuk menyiapkan dan mengevaluasi diri kita
- Melakukan premortem atau premeditatio malorum untuk mengantisipasi dan bersiap menghadapi hal-hal buruk yang mungkin terjadi
- Melakukan view from above atau perspektif dari atas untuk melihat hidup dari sudut pandang yang lebih luas dan objektif
- Melakukan voluntary discomfort atau ketidaknyamanan sukarela untuk melatih ketahanan dan kemandirian kita
- Melakukan self-examination atau pemeriksaan diri untuk mengukur kemajuan dan kekurangan kita
Bagian ketiga: Alat-alat stoisisme. Di bagian ini, penulis menyajikan beberapa alat atau teknik stoisisme yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah-masalah yang kita hadapi, seperti:
– Menggunakan pertanyaan-pertanyaan stoisisme untuk menguji dan memperbaiki pikiran kita, seperti: – Apakah ini benar-benar penting? – Apakah ini berada di dalam atau di luar kendali saya? – Apakah ini sesuai dengan kebajikan saya? – Apakah ini berasal dari akal budi atau emosi saya? – Bagaimana seorang bijaksana akan bereaksi terhadap ini?
– Menggunakan pernyataan-pernyataan stoisisme untuk menguatkan dan menghibur diri kita, seperti: – Ini bukanlah bencana, melainkan kesempatan – Ini bukanlah hukuman, melainkan latihan – Ini bukanlah akhir, melainkan awal – Ini bukanlah musuh, melainkan guru – Ini bukanlah kekalahan, melainkan pembelajaran
– Menggunakan analogi-analogi stoisisme untuk memahami dan mengilustrasikan konsep-konsep stoisisme, seperti: – Hidup adalah seperti panah yang dilepaskan dari busur, kita tidak dapat mengubah arahnya setelah dilepaskan, tetapi kita dapat memilih sasaran yang tepat sebelum melepaskannya – Hidup adalah seperti berlayar di lautan, kita tidak dapat mengendalikan angin dan ombak, tetapi kita dapat mengendalikan kemudi dan layar – Hidup adalah seperti bermain dadu, kita tidak dapat mengendalikan hasil lemparan dadu, tetapi kita dapat mengendalikan taruhan dan strategi kita – Hidup adalah seperti berkebun, kita tidak dapat mengendalikan cuaca dan hama, tetapi kita dapat mengendalikan bibit dan pupuk yang kita gunakan – Hidup adalah seperti memahat patung, kita tidak dapat mengendalikan bentuk dan ukuran batu yang kita dapatkan, tetapi kita dapat mengendalikan alat dan teknik yang kita gunakan