Kerajaan Mataram Kuno dan Kesultanan Mataram Islam adalah dua entitas politik yang berbeda dalam sejarah Jawa, baik dari segi periode, corak agama, maupun struktur pemerintahan. Meskipun keduanya berbagi nama “Mataram” dan berlokasi di wilayah yang relatif berdekatan, hubungan langsung antara keduanya tidak dapat dipastikan secara historis.
Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno, juga dikenal sebagai Kerajaan Medang, berdiri pada abad ke-8 hingga abad ke-11 Masehi. Kerajaan ini bercorak Hindu-Buddha dan mengalami masa kejayaan di bawah dua dinasti utama: Wangsa Sanjaya yang menganut Hindu dan Wangsa Syailendra yang menganut Buddha. Pusat kekuasaan awalnya berada di Jawa Tengah, namun kemudian dipindahkan ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok pada abad ke-10. Peninggalan arkeologis seperti Candi Prambanan dan Candi Borobudur menjadi bukti kejayaan budaya dan spiritual kerajaan ini.
Kesultanan Mataram Islam
Kesultanan Mataram Islam muncul pada akhir abad ke-16 Masehi, didirikan oleh Sutawijaya atau Panembahan Senopati. Kesultanan ini bercorak Islam dan mencapai puncak kejayaan di bawah Sultan Agung pada awal abad ke-17. Wilayah kekuasaannya mencakup sebagian besar Pulau Jawa, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Pusat pemerintahan berada di Kotagede, yang kini menjadi bagian dari Yogyakarta. Kesultanan Mataram Islam dikenal karena upayanya menyebarkan agama Islam dan perlawanan terhadap VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) di Batavia.
Analisis Hubungan Antara Mataram Kuno dan Mataram Islam
Secara historis, tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan langsung antara Kerajaan Mataram Kuno dan Kesultanan Mataram Islam. Perbedaan utama terletak pada:
- Periode Waktu: Mataram Kuno eksis pada abad ke-8 hingga ke-11, sedangkan Mataram Islam muncul pada akhir abad ke-16 hingga abad ke-18.
- Corak Agama: Mataram Kuno bercorak Hindu-Buddha, sementara Mataram Islam bercorak Islam.
- Struktur Pemerintahan: Mataram Kuno dipimpin oleh raja-raja dari dinasti Sanjaya dan Syailendra, sedangkan Mataram Islam dipimpin oleh sultan-sultan dari dinasti Mataram.
Meskipun demikian, penggunaan nama “Mataram” oleh Kesultanan Mataram Islam mungkin mencerminkan upaya untuk menghubungkan legitimasi kekuasaan mereka dengan kejayaan masa lalu di wilayah yang sama. Namun, tanpa bukti konkret, hubungan antara kedua kerajaan ini tetap bersifat spekulatif.
Kesimpulan
Kerajaan Mataram Kuno dan Kesultanan Mataram Islam adalah dua entitas politik yang berbeda dalam sejarah Jawa, dengan perbedaan signifikan dalam periode, corak agama, dan struktur pemerintahan. Tidak ada bukti historis yang menunjukkan adanya hubungan langsung antara keduanya, meskipun penggunaan nama “Mataram” oleh Kesultanan Mataram Islam mungkin mencerminkan upaya untuk mengaitkan diri dengan kejayaan masa lalu di wilayah yang sama.