Kadato Kie, juga dikenal sebagai Kedaton Tidore, adalah istana megah yang menjadi pusat pemerintahan dan kediaman resmi para sultan Kesultanan Tidore. Terletak di Kelurahan Soasio, Kecamatan Tidore, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, istana ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah Kesultanan Tidore.
Sejarah Pembangunan dan Pemugaran
Pembangunan awal Kadato Kie dimulai pada tahun 1811 di masa pemerintahan Sultan Muhammad Tahir, sultan ke-30 Kesultanan Tidore. Bangunan ini didirikan dengan arsitektur khas yang mencerminkan kebesaran dan keagungan kesultanan. Namun, pada tahun 1912, istana ini mengalami keruntuhan akibat gejolak internal kesultanan yang diperburuk oleh politik “divide et impera” yang diterapkan oleh kolonial Belanda.
Setelah hampir satu abad dalam kondisi runtuh, upaya pemugaran Kadato Kie dimulai pada tahun 1997 atas dorongan Sultan Djafar Syah, sultan ke-36 Kesultanan Tidore. Proses rekonstruksi berlangsung hingga tahun 2010, menghasilkan bangunan yang megah dan kembali menjadi simbol kebanggaan masyarakat Tidore.
Arsitektur dan Makna Simbolis
Kadato Kie memiliki desain arsitektur yang unik, berbentuk seperti kalajengking jantan. Bangunan ini didominasi oleh warna putih, hijau, merah, dan kuning, yang masing-masing melambangkan lima waktu salat dalam Islam: merah untuk magrib, putih untuk subuh, kuning untuk zuhur, hijau untuk asar, dan hitam untuk isya.
Istana ini terdiri dari dua lantai dan berdiri di atas lahan seluas 150 x 100 meter. Di dalamnya terdapat berbagai ruangan yang digunakan untuk keperluan pemerintahan, upacara adat, dan kegiatan sehari-hari sultan beserta keluarganya.
Peran Kadato Kie dalam Sejarah Kesultanan Tidore
Sebagai pusat pemerintahan, Kadato Kie menjadi saksi berbagai peristiwa penting dalam sejarah Kesultanan Tidore. Istana ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal sultan, tetapi juga sebagai pusat pengambilan keputusan politik, ekonomi, dan sosial budaya. Selain itu, Kadato Kie menjadi simbol persatuan dan identitas masyarakat Tidore, mencerminkan kejayaan dan kedaulatan kesultanan di masa lalu.
Kondisi Terkini dan Fungsi Kadato Kie
Setelah proses pemugaran selesai pada tahun 2010, Kadato Kie kembali difungsikan sebagai pusat kegiatan budaya dan pariwisata. Istana ini terbuka untuk umum, memungkinkan wisatawan dan peneliti untuk mempelajari lebih dalam tentang sejarah dan budaya Kesultanan Tidore. Berbagai acara adat dan upacara kebudayaan juga sering diselenggarakan di sini, menjadikan Kadato Kie sebagai pusat pelestarian tradisi dan budaya lokal.
Kesimpulan
Kadato Kie bukan hanya sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Tidore. Melalui upaya pemugaran dan pelestarian, istana ini terus menjadi saksi bisu perjalanan panjang Kesultanan Tidore dan menjadi warisan budaya yang tak ternilai bagi generasi mendatang.