Kerajaan Mataram: Sejarah dan Peninggalannya

Nama “Mataram” memegang kedudukan legendaris dalam lembaran sejarah peradaban pulau Jawa. Sering kali masyarakat awam mencampuradukkan antara dua entitas peradaban besar yang terpisah rentang waktu lebih dari enam abad, yaitu Kerajaan Mataram Kuno (Medang) yang bercorak Hindu-Buddha pada abad ke-8 hingga ke-10 Masehi, dan Kesultanan Mataram Islam yang berkuasa pada abad ke-16 hingga ke-18 Masehi. Membedah dinamika kedua kerajaan ini secara runtut memberikan pemahaman utuh mengenai evolusi kebudayaan, tata kelola agraris, dan warisan monumental Nusantara.

Dua Babak Peradaban Mataram dalam Historiografi

1. Kerajaan Mataram Kuno (Medang) Abad VIII–X Masehi

Berdasarkan Prasasti Canggal (732 M) dan Prasasti Mantyasih (907 M), Mataram Kuno didirikan di wilayah pedalaman Jawa Tengah (bumi Mataram di sekitar Yogyakarta dan Kedu modern) oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Kerajaan ini diwarnai oleh koeksistensi harmonis antara dua dinasti besar: Wangsa Sanjaya (penganut Hindu Siwa) dan Wangsa Syailendra (penganut Buddha Mahayana).

Pada pertengahan abad ke-9, terjadi rekonsiliasi politik melalui pernikahan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya dengan Pramodhawardhani putri Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra. Pada masa keemasan inilah mahakarya arsitektur dunia didirikan: Candi Borobudur oleh dinasti Syailendra, serta Kompleks Candi Prambanan (Loro Jonggrang) oleh Rakai Pikatan. Pada tahun 929 M, akibat letusan dahsyat Gunung Merapi dan ancaman militer Sriwijaya, pusat kerajaan dipindahkan ke lembah Sungai Brantas, Jawa Timur oleh Mpu Sindok yang mendirikan Wangsa Isyana.

2. Kesultanan Mataram Islam Abad XVI–XVIII Masehi

Berjarak sekitar enam ratus tahun kemudian, nama Mataram dihidupkan kembali sebagai imperium Islam. Berawal dari hadiah tanah Alas Mentaok (Kotagede) oleh Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) dari Kesultanan Pajang kepada Ki Ageng Pamanahan atas jasanya menaklukkan Arya Penangsang pada tahun 1554 M.

Putra Ki Ageng Pamanahan, yaitu Sutawijaya (Panembahan Senapati), mendeklarasikan berdirinya Kesultanan Mataram Islam yang merdeka pada tahun 1587 M setelah Pajang runtuh. Mataram Islam mencapai puncak kejayaan tertingginya di bawah kepemimpinan Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613–1645 M), yang berhasil menyatukan hampir seluruh pulau Jawa dan memimpin pengepungan markas VOC Belanda di Batavia pada tahun 1628 dan 1629.

Dimensi Komparasi Mataram Kuno (Kerajaan Medang) Kesultanan Mataram Islam
Kurun Waktu & Wilayah Abad ke-8 s.d. 10 M (Jawa Tengah hingga Jawa Timur). Abad ke-16 s.d. 18 M (Kotagede, Plered, Kartasura, Surakarta/Yogyakarta).
Corak Keagamaan Sinkretisme Hindu Siwa dan Buddha Mahayana. Islam Sunni berwatak budaya sufistik-kejawen.
Tokoh Pendiri Utama Ratu Sanjaya (Prasasti Canggal 732 M). Panembahan Senapati Sutawijaya (1587 M).
Puncak Kejayaan Rakai Pikatan & Dyah Balitung (Jawa Tengah) / Dharmawangsa Teguh (Jawa Timur). Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613–1645 M).
Warisan Monumental Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Kalasan, Candi Plaosan. Masjid Kotagede, Makam Imogiri, Kalender Jawa Islam (Tahun Jawa), Kitab Sastra Gendhing.

Dinamika Suksesi dan Pembagian Wilayah (Perjanjian Giyanti 1755)

Pasca-wafatnya Sultan Agung, Mataram Islam mengalami perpecahan akibat intervensi devide et impera VOC Belanda. Puncak konflik suksesi diakhiri melalui Perjanjian Giyanti (1755) yang membagi Mataram menjadi dua entitas: Kasunanan Surakarta Hadiningrat di bawah Sri Susuhunan Pakubuwana III, dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah Sri Sultan Hamengkubuwana I. Dua tahun berselang, Perjanjian Salatiga (1757) membentuk Kadipaten Mangkunegaran, disusul pembentukan Kadipaten Pakualaman pada tahun 1812.

Memahami distingsi kedua peradaban Mataram ini membuktikan bahwa sejarah kepulauan Nusantara memiliki kedalaman epistemologis yang luar biasa: dari era candi batu megah berbasis agraris-kosmologis hingga era kesultanan maritim-sufistik yang gigih melawan penetrasi kolonialisme Barat.

Navigasi Utama