Menu Tutup

Peran Mazhab Syafi’i dalam Kehidupan Keagamaan Kerajaan Samudra Pasai sebagai Pusat Islam Pertama di Nusantara

Kerajaan Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara, terletak di pesisir utara Sumatera, dekat dengan Lhokseumawe di Aceh modern. Berdiri pada abad ke-13, kerajaan ini dikenal sebagai pusat penyebaran Islam di wilayah Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Agama Islam yang dianut oleh kerajaan ini sangat dipengaruhi oleh ajaran mazhab Syafi’i, salah satu dari empat mazhab besar dalam Islam Sunni. Berikut ini penjelasan mendalam tentang mazhab ini, pengaruhnya dalam pemerintahan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Samudra Pasai.

Latar Belakang Agama di Kerajaan Samudra Pasai

Pada masanya, Kerajaan Samudra Pasai memiliki peran penting dalam memperkenalkan Islam di Nusantara. Kehadiran Islam di kerajaan ini sangat dipengaruhi oleh jaringan perdagangan internasional, yang melibatkan para pedagang dari Gujarat, Persia, dan Arab. Melalui jalur perdagangan, pengaruh Islam semakin kuat, dan Samudra Pasai menjadi salah satu pusat utama dalam penyebaran agama ini.

Mazhab Syafi’i sebagai Mazhab Utama di Samudra Pasai

Mazhab Syafi’i adalah salah satu dari empat mazhab utama dalam Islam Sunni, didirikan oleh Imam Syafi’i (767–820 M). Mazhab ini memiliki ciri khas dalam penerapan hukum-hukum Islam yang lebih moderat dan mengedepankan interpretasi yang menyesuaikan dengan budaya lokal. Ketika Islam masuk ke Nusantara, terutama di Samudra Pasai, mazhab Syafi’i menjadi pilihan utama karena sifatnya yang lebih mudah diterima oleh masyarakat yang sebelumnya telah memiliki tradisi Hindu-Buddha.

Ibnu Batutah dan Pengaruh Mazhab Syafi’i di Samudra Pasai Bukti kuat mengenai penerapan mazhab Syafi’i di Samudra Pasai datang dari catatan Ibnu Batutah, seorang pengembara Muslim asal Maroko yang mengunjungi Samudra Pasai pada tahun 1345. Dalam catatannya, Ibnu Batutah mengamati bahwa Sultan Al-Malik azh-Zhahir, penguasa Samudra Pasai pada waktu itu, adalah penganut mazhab Syafi’i yang taat. Sultan ini dikenal sangat rajin berdiskusi dengan ulama-ulama setempat mengenai hukum Islam dan penerapannya di kerajaan, menunjukkan bahwa ia memiliki pemahaman mendalam tentang mazhab ini.

Pengaruh Mazhab Syafi’i dalam Sistem Pemerintahan

Penerapan mazhab Syafi’i di Samudra Pasai tidak hanya terbatas pada ritual keagamaan sehari-hari tetapi juga diterapkan dalam pemerintahan dan sistem hukum kerajaan. Mazhab Syafi’i memiliki sistem hukum syariah yang diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam hal pernikahan, warisan, dan hukum pidana. Di bawah mazhab ini, Samudra Pasai memberlakukan hukum-hukum yang lebih berorientasi pada penegakan syariah dan menjaga nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan dan Penyebaran Ilmu Pengetahuan

Mazhab Syafi’i di Samudra Pasai turut mendorong perkembangan pendidikan dan pusat-pusat keilmuan. Kerajaan ini menarik perhatian ulama dan cendekiawan dari berbagai wilayah Islam, seperti Persia dan Timur Tengah. Kehadiran para ulama ini memperkaya perkembangan ilmu pengetahuan Islam di Samudra Pasai, terutama dalam bidang fikih (hukum Islam), tafsir Al-Quran, dan hadis. Dengan adanya para ahli dari luar negeri, Samudra Pasai tidak hanya menjadi pusat pemerintahan yang islami tetapi juga pusat studi Islam yang penting bagi masyarakat sekitar.

Peran Ulama dari Persia dan Arab Ulama-ulama dari Persia, seperti Qadi Sharif Amir Sayyid dari Syiraz dan Taj-aldin dari Isfahan, berperan besar dalam memperkuat ajaran mazhab Syafi’i di Samudra Pasai. Para ulama ini tidak hanya menyebarkan ajaran mazhab Syafi’i tetapi juga terlibat dalam pengajaran berbagai ilmu keislaman, membimbing para pemuda dan pelajar lokal, serta memperkenalkan teks-teks Islam klasik. Peran ini semakin mengukuhkan kedudukan Samudra Pasai sebagai pusat pembelajaran Islam di kawasan Asia Tenggara.

Dampak Sosial dan Budaya

Selain memengaruhi aspek-aspek keagamaan dan pemerintahan, mazhab Syafi’i juga berpengaruh besar dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Samudra Pasai. Upacara keagamaan, praktik sosial, dan hukum adat banyak dipengaruhi oleh ajaran mazhab ini. Masyarakat menggabungkan nilai-nilai lokal dengan ajaran Islam, menciptakan budaya yang khas dengan nuansa Islam yang kuat tetapi tetap mempertahankan identitas lokal. Misalnya, berbagai upacara adat di Samudra Pasai memiliki unsur-unsur Islam yang disesuaikan dengan kebudayaan setempat, menjadikan Islam semakin mudah diterima oleh masyarakat.

Hubungan Internasional dan Penyebaran Islam

Sebagai pusat perdagangan yang strategis, Samudra Pasai menjalin hubungan erat dengan berbagai wilayah Islam lainnya, seperti Gujarat, Arab, dan Cina. Hubungan dagang ini membawa lebih banyak pengaruh Islam ke kerajaan dan membuka peluang penyebaran Islam ke wilayah-wilayah lain di Nusantara. Mazhab Syafi’i, yang dianut oleh kerajaan ini, kemudian menjadi mazhab utama yang menyebar ke seluruh Nusantara, termasuk di wilayah Malaka dan Jawa.

Kesimpulan

Kerajaan Samudra Pasai adalah pionir dalam penyebaran Islam di Nusantara, dengan mazhab Syafi’i sebagai landasan keagamaan dan hukum kerajaan. Mazhab ini memengaruhi berbagai aspek kehidupan di Samudra Pasai, dari pemerintahan hingga pendidikan, serta hubungan sosial dan budaya masyarakat. Kehadiran ulama dari Timur Tengah dan Persia memperkaya kehidupan intelektual di Samudra Pasai, menjadikannya pusat pembelajaran Islam yang penting. Warisan ini kemudian menyebar ke seluruh Nusantara, menjadikan mazhab Syafi’i sebagai mazhab dominan yang dianut oleh masyarakat Muslim Indonesia hingga saat ini.

Sumber:

  • Historia.id. “Samudera Pasai dan Dinasti Abbasiyah.” Diakses pada 4 November 2024. https://historia.id/kuno/articles/samudera-pasai-dan-dinasti-abbasiyah-DAd9w
  • Wikipedia Bahasa Indonesia. “Kesultanan Samudera Pasai.” Diakses pada 4 November 2024. https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Samudera_Pasai
Posted in Sejarah

Artikel Lainnya