Sultan Baabullah Datu Syah, yang memerintah Kesultanan Ternate dari tahun 1570 hingga 1583, dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Maluku. Ia berhasil mengusir penjajah Portugis dari Ternate dan membawa kesultanan tersebut mencapai puncak kejayaannya pada akhir abad ke-16.
Latar Belakang Kedatangan Portugis di Maluku
Pada awal abad ke-16, bangsa Portugis tiba di Maluku dengan tujuan menguasai perdagangan rempah-rempah yang sangat berharga di pasar Eropa. Mereka menjalin hubungan dagang dengan Kesultanan Ternate dan mendirikan benteng di wilayah tersebut pada tahun 1522. Awalnya, hubungan antara Portugis dan Ternate berjalan baik, namun seiring waktu, tindakan sewenang-wenang Portugis menimbulkan ketegangan dengan penduduk lokal.
Pembunuhan Sultan Khairun dan Munculnya Perlawanan
Ketegangan mencapai puncaknya pada tahun 1570 ketika Portugis membunuh Sultan Khairun, ayah dari Baabullah. Peristiwa ini memicu kemarahan besar di kalangan rakyat Maluku dan mendorong Baabullah untuk memimpin perlawanan terhadap Portugis. Ia bersumpah untuk menuntut balas atas kematian ayahnya dan mengusir Portugis dari Ternate.
Strategi Perlawanan Sultan Baabullah
Sultan Baabullah mengorganisir pasukan dan membangun aliansi dengan kerajaan-kerajaan tetangga, termasuk Kesultanan Tidore, Jailolo, dan Bacan. Ia juga mendapatkan dukungan dari Kesultanan Aceh, Demak, Banten, dan Mataram. Dengan kekuatan gabungan ini, Baabullah mengepung benteng Portugis di Ternate selama lima tahun. Pada tahun 1575, Portugis kehabisan bekal dan akhirnya menyerah, kemudian melarikan diri ke Timor Timur.
Dampak Perlawanan dan Kejayaan Kesultanan Ternate
Keberhasilan Sultan Baabullah mengusir Portugis tidak hanya membebaskan Ternate dari penjajahan, tetapi juga memperluas pengaruh kesultanan hingga mencakup 72 pulau di wilayah Indonesia timur. Masa pemerintahannya menandai puncak kejayaan Kesultanan Ternate, dengan perdagangan rempah-rempah yang berkembang pesat dan hubungan diplomatik yang kuat dengan berbagai kerajaan di Nusantara.
Warisan Sultan Baabullah
Sultan Baabullah dikenang sebagai pahlawan nasional yang gigih melawan penjajahan dan memperjuangkan kedaulatan bangsanya. Pada 10 November 2020, ia secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia sebagai pengakuan atas jasa-jasanya dalam sejarah perjuangan bangsa.
Perlawanan Sultan Baabullah terhadap Portugis menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya dalam mempertahankan kedaulatan dan identitas bangsa Indonesia. Kisahnya mengajarkan pentingnya persatuan, strategi yang cerdas, dan keberanian dalam menghadapi penindasan.