Sumatera Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2010, persentase penduduk Sumatera Barat yang beragama Islam mencapai 97,42%. Jika tidak termasuk Kepulauan Mentawai, di mana mayoritas penduduknya non-Muslim (Protestan), angka ini meningkat menjadi 99,6%. ¹
Islam di Sumatera Barat adalah Islam Sunni yang beraliran Syafi’i. Orang Minangkabau, penduduk asli Sumatera Barat dan terdiri dari 88% penduduk provinsi ini saat ini, secara historis memainkan peran penting dalam komunitas Muslim di Indonesia. ² Hingga saat ini, wilayah Sumatera Barat dianggap sebagai salah satu benteng Islam di Indonesia.
Lalu, bagaimana sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Sumatera Barat? Artikel ini akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan mengulas beberapa aspek penting, seperti jalur masuknya Islam, perkembangan kerajaan-kerajaan Islam, peranan tokoh-tokoh ulama dan tarikat-tarikat Sufi, serta dampak sosial-budaya dari Islamisasi di Sumatera Barat.
Jalur Masuknya Islam
Ada dua jalur utama yang diyakini sebagai pintu masuknya Islam ke Sumatera Barat, yaitu jalur timur dan jalur barat. Jalur timur melalui pesisir timur pulau Sumatera, sedangkan jalur barat melalui pesisir barat pulau Sumatera.
Jalur Timur
Jalur timur didasarkan pada intensitas jalur perdagangan antara pedagang-pedagang Arab Muslim dengan masyarakat pribumi di pesisir timur pulau Sumatera. Jalur perdagangan ini melintasi sungai-sungai yang bermuara di Selat Malaka, seperti Batang Hari, Kampar, Siak, dan Indragiri. Komoditas utama yang diperdagangkan adalah lada dan emas yang berasal dari dataran tinggi Minangkabau.
Agama Islam pertama kali memasuki Sumatera Barat melalui jalur timur pada abad ke-7 Masehi. Pada tahun 674 Masehi, telah didapati masyarakat Arab Muslim di pesisir timur pulau Sumatera. ³ Selain berdagang, secara perlahan mereka membawa masuk agama Islam ke dataran tinggi Minangkabau atau Sumatera Barat sekarang melalui aliran sungai-sungai tersebut.
Perkembangan agama Islam melalui jalur timur semakin pesat pada abad ke-13 Masehi, ketika kerajaan Islam Samudra Pasai muncul sebagai kekuatan baru dalam wilayah perdagangan Selat Malaka. Samudra Pasai bahkan telah menguasai sebagian wilayah penghasil lada dan emas di Minangkabau Timur. ³ Samudra Pasai juga menjadi pusat penyebaran agama Islam di Nusantara melalui jaringan diplomatik dan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan lain.
Jalur Barat
Jalur barat didasarkan pada intensitas kegiatan perdagangan di pantai barat pulau Sumatera pada abad ke-16 Masehi. Pada masa ini, pengaruh kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam sangat besar, terutama di wilayah pesisir barat pulau Sumatera. Aceh Darussalam adalah pelanjut dari kekuasaan Samudra Pasai yang runtuh akibat serangan Portugis.
Intensifnya pengembangan agama Islam melalui jalur barat ini sering dihubungkan dengan nama Syekh Burhanuddin Ulakan, yang dianggap sebagai tokoh “pembawa” Islam pertama ke Sumatera Barat melalui pesisir barat. Syekh Burhanuddin adalah murid Syekh Abdur Rauf Singkil, ulama tarikat Syatariyah Aceh. Syekh Burhanuddin dikenal sebagai pembawa aliran tarikat Syatariyah ke Sumatera Barat untuk pertama kalinya. ⁴
Tarikat Syatariyah kemudian menyebar melalui surau-surau yang didirikan oleh murid-murid Syekh Burhanuddin. Di samping Ulakan sendiri, sentra-sentra tarikat ini juga berkembang di pesisir barat Sumatera Barat dan di beberapa wilayah pedalaman Minangkabau. Tarikat Syatariyah berperan penting dalam melahirkan gagasan-gagasan yang melampaui batas-batas implementasi ajaran sufistik itu sendiri, seperti halnya dalam bidang politik, sosial, dan budaya. ⁴
Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam
Perkembangan agama Islam di Sumatera Barat tidak terlepas dari perkembangan kerajaan-kerajaan Islam yang ada di wilayah tersebut. Beberapa kerajaan Islam yang pernah berdiri dan berpengaruh di Sumatera Barat antara lain adalah:
Kerajaan Pagaruyung
Kerajaan Pagaruyung adalah kerajaan tertua dan terbesar di Sumatera Barat. Kerajaan ini berdiri sejak abad ke-12 Masehi dan mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-16 Masehi. Kerajaan Pagaruyung merupakan pusat budaya Minangkabau yang mengembangkan sistem adat matrilineal dan demokrasi musyawarah.
Kerajaan Pagaruyung menerima agama Islam pada abad ke-16 Masehi, setelah Rajo Tigo Selo (tiga raja yang memimpin kerajaan ini) mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan ulama-ulama dari Aceh. Namun, agama Islam tidak menggantikan adat Minangkabau, melainkan berbaur dengan adat tersebut dalam konsep “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” (adat bersandar pada syariat, syariat bersandar pada Kitabullah).
Kerajaan Pagaruyung mengalami kemunduran pada abad ke-18 Masehi, akibat dari perang saudara antara kelompok Kaum Adat dan Kaum Paderi, serta campur tangan Belanda dalam urusan dalam negeri kerajaan. Kerajaan Pagaruyung akhirnya dibubarkan oleh Belanda pada tahun 1833 Masehi.
Kerajaan Inderapura
Kerajaan Inderapura adalah kerajaan Islam yang berdiri di pesisir barat Sumatera Barat pada abad ke-16 Masehi. Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Zainal Abidin, putra dari Sultan Mahmud dari Aceh. Kerajaan Inderapura merupakan salah satu kerajaan bawahan Aceh yang membantu penyebaran agama Islam di wilayah pesisir barat Sumatera.
Kerajaan Inderapura mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Zulkarnain (1590-1641 M), yang berhasil memperluas wilayahnya hingga ke daerah Painan dan Padang. Kerajaan Inderapura juga dikenal sebagai kerajaan yang toleran terhadap agama lain, seperti Hindu dan Buddha.
Kerajaan Inderapura mengalami kemunduran pada abad ke-18 Masehi, akibat dari perlawanan rakyat terhadap kesewenang-wenangan raja-raja Inderapura yang korup dan tiran. Kerajaan Inderapura akhirnya runtuh pada tahun 1797 Masehi, setelah diserang oleh pasukan Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol.
Kerajaan Pariaman
Kerajaan Pariaman adalah kerajaan Islam yang berdiri di pesisir barat Sumatera Barat pada abad ke-16 Masehi. Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Muhammad Syah, putra dari Sultan Zainal Abidin dari Inderapura. Kerajaan Pariaman merupakan kerajaan yang mandiri dan tidak tunduk kepada Aceh maupun Inderapura. Kerajaan Pariaman juga menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan yang ramai di pantai barat Sumatera.
Kerajaan Pariaman mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Mughayat Syah (1638-1670 M), yang berhasil mempertahankan kemerdekaan kerajaannya dari serangan Aceh dan Belanda. Kerajaan Pariaman juga dikenal sebagai kerajaan yang berperan aktif dalam penyebaran agama Islam di wilayah pedalaman Minangkabau.
Kerajaan Pariaman mengalami kemunduran pada abad ke-18 Masehi, akibat dari perang saudara antara kelompok Kaum Adat dan Kaum Paderi, serta campur tangan Belanda dalam urusan dalam negeri kerajaan. Kerajaan Pariaman akhirnya dibubarkan oleh Belanda pada tahun 1819 Masehi.
Peranan Tokoh-Tokoh Ulama dan Tarikat-Tarikat Sufi
Perkembangan agama Islam di Sumatera Barat sangat dipengaruhi oleh peranan tokoh-tokoh ulama dan tarikat-tarikat Sufi yang ada di wilayah tersebut. Beberapa tokoh ulama dan tarikat Sufi yang berpengaruh di Sumatera Barat antara lain adalah:
Syekh Burhanuddin Ulakan
Syekh Burhanuddin Ulakan adalah tokoh ulama dan sufi yang dianggap sebagai “pembawa” Islam pertama ke Sumatera Barat melalui pesisir barat. Syekh Burhanuddin adalah murid Syekh Abdur Rauf Singkil, ulama tarikat Syatariyah Aceh. Syekh Burhanuddin dikenal sebagai pembawa aliran tarikat Syatariyah ke Sumatera Barat untuk pertama kalinya.
Syekh Burhanuddin mendirikan surau pertamanya di Ulakan, sebuah desa di pesisir barat Sumatera Barat. Surau ini kemudian menjadi pusat pengajaran agama Islam dan tarikat Syatariyah di wilayah tersebut. Syekh Burhanuddin juga mengajarkan ilmu-ilmu tasawuf, seperti ilmu hakikat, ilmu ma’rifat, ilmu tauhid, ilmu tarekat, dan ilmu syariat.
Syekh Burhanuddin memiliki banyak murid yang kemudian mendirikan surau-surau lain di berbagai daerah di Sumatera Barat. Beberapa murid terkenal dari Syekh Burhanuddin antara lain adalah Datuk Ketumanggungan, Datuk Sinaro, Datuk Koto Nan Ampek, Datuk Tan Malaka, Datuk Rajo Tigo Koto, dan Datuk Rajo Limo Suku.
Tuanku Imam Bonjol
Tuanku Imam Bonjol adalah tokoh ulama dan pejuang yang memimpin perlawanan rakyat Minangkabau terhadap penjajahan Belanda dalam Perang Padri (1803-1837 M). Tuanku Imam Bonjol adalah murid Syekh Mansur Padang Guci, ulama tarikat Naqsyabandiyah yang berasal dari Persia. Tuanku Imam Bonjol dikenal sebagai pemimpin gerakan Kaum Paderi, kelompok yang ingin menerapkan syariat Islam secara murni di Sumatera Barat.
Tuanku Imam Bonjol mendirikan benteng pertamanya di Bonjol, sebuah desa di pedalaman Sumatera Barat. Benteng ini kemudian menjadi markas besar perjuangan Kaum Paderi melawan Belanda. Tuanku Imam Bonjol juga mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam dan tarikat Naqsyabandiyah kepada para pengikutnya.
Tuanku Imam Bonjol memiliki banyak pengikut yang kemudian bergabung dalam perang melawan Belanda. Beberapa pengikut terkenal dari Tuanku Imam Bonjol antara lain adalah Tuanku Rao, Tuanku Tambusai, Tuanku Nan Renceh, Tuanku Nan Tuo, dan Tuanku Pasaman.
Haji Miskin
Haji Miskin adalah tokoh ulama dan sufi yang dikenal sebagai pendiri aliran Thariqatul Mu’tabaroh di Sumatera Barat. Haji Miskin adalah murid Syekh Muhammad Jamil Jaho, ulama tarikat Qadariyah wa Naqsyabandiyah yang berasal dari Yaman. Haji Miskin dikenal sebagai ulama yang mengajarkan ilmu-ilmu tasawuf, seperti ilmu suluk, ilmu zikir, ilmu fana, dan ilmu baqa.
Haji Miskin mendirikan surau pertamanya di Padang Panjang, sebuah kota di dataran tinggi Sumatera Barat. Surau ini kemudian menjadi pusat pengajaran agama Islam dan tarikat Thariqatul Mu’tabaroh di wilayah tersebut. Haji Miskin juga mengajarkan ilmu-ilmu kebatinan, seperti ilmu hikmah, ilmu laduni, ilmu ruhaniah, dan ilmu asrar.
Haji Miskin memiliki banyak murid yang kemudian mendirikan surau-surau lain di berbagai daerah di Sumatera Barat. Beberapa murid terkenal dari Haji Miskin antara lain adalah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syekh Abdul Karim Amrullah, Syekh Ahmad Khatib Sambas, Syekh Muhammad Nafis al-Banjari, dan Syekh Muhammad Jamil Jaho.
Sumber:
(1) Islam di Sumatra Barat – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Sumatra_Barat.
(2) Sejarah awal datangnya islam di sumatera barat – Blogger. https://minangkab.blogspot.com/2013/03/sejarah-awal-datangnya-islam-di.html.
(3) Jelaskan sejarah berkembangnya Islam di Sumatera barat – Roboguru. https://roboguru.ruangguru.com/question/jelaskan-sejarah-berkembangnya-islam-di-sumatera-barat-_QU-YH6UY1N0.
(4) Kerajaan Islam di Sumatera Barat – Niatku.com. https://www.niatku.com/2019/01/kerajaan-islam-di-sumatera-barat.html.