Menu Tutup

Silsilah dan Sejarah Kesultanan Gowa-Tallo: Dari Awal Berdiri hingga Peninggalan Bersejarah

Kesultanan Gowa-Tallo, yang terletak di Sulawesi Selatan, memiliki sejarah panjang dan kompleks yang mencerminkan dinamika politik dan budaya di wilayah tersebut. Berikut adalah penjelasan mengenai silsilah dan perkembangan kesultanan ini.

Asal Usul dan Pembentukan Kesultanan Gowa-Tallo

Pada awalnya, terdapat sembilan komunitas atau negeri kecil di wilayah Gowa yang dikenal sebagai Bate Salapang, yaitu:

  • Tombolo
  • Lakiung
  • Samata
  • Parang-parang
  • Data
  • Agang Je’ne
  • Bisei
  • Kalling
  • Sero

Komunitas-komunitas ini sering terlibat konflik satu sama lain hingga akhirnya bersatu di bawah kepemimpinan seorang raja pertama bernama Tumanurung Bainea sekitar tahun 1320 Masehi. Beliau dianggap sebagai pendiri Kerajaan Gowa.

Pada pertengahan abad ke-15, Kerajaan Gowa mengalami perpecahan akibat perselisihan internal. Dua putra dari penguasa saat itu, yaitu Batara Gowa dan Karaeng Loe ri Sero, bersaing memperebutkan takhta. Batara Gowa berhasil mempertahankan kekuasaannya, sementara Karaeng Loe ri Sero mendirikan Kerajaan Tallo di muara Sungai Tallo.

Pada tahun 1528, di bawah kepemimpinan Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna, kedua kerajaan ini bersatu melalui perjanjian yang dikenal sebagai “Rua Karaeng se’re ata” atau “dua raja, satu rakyat”. Sejak saat itu, kerajaan gabungan ini dikenal sebagai Kerajaan Gowa-Tallo atau Kerajaan Makassar.

Daftar Penguasa Kesultanan Gowa-Tallo

Berikut adalah daftar beberapa penguasa penting dalam sejarah Kesultanan Gowa-Tallo:

  1. Tumanurung Bainea (±1300 M): Raja pertama Kerajaan Gowa.
  2. Tunatangka Lopi (1420-1445 M): Penguasa yang masa pemerintahannya diwarnai oleh perpecahan kerajaan menjadi Gowa dan Tallo.
  3. Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna (1460-1510 M): Raja yang mempersatukan kembali Gowa dan Tallo.
  4. I Mangarangi Daeng Manrabbia (1593-1639 M): Raja pertama yang memeluk Islam dan bergelar Sultan Alauddin I.
  5. Sultan Hasanuddin (1653-1669 M): Dikenal sebagai “Ayam Jantan dari Timur”, memimpin kesultanan pada puncak kejayaannya dan melawan VOC dalam Perang Makassar.

Perkembangan Kesultanan Gowa-Tallo

Setelah memeluk Islam pada awal abad ke-17, Kesultanan Gowa-Tallo berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan kekuatan maritim di Indonesia bagian timur. Di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, kesultanan ini mencapai puncak kejayaannya, menguasai jalur perdagangan penting dan memiliki pengaruh luas di wilayah Nusantara.

Namun, dominasi Kesultanan Gowa-Tallo mulai menurun setelah kekalahannya dalam Perang Makassar melawan VOC pada tahun 1669, yang ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Bongaya. Perjanjian ini membatasi kekuasaan kesultanan dan memberikan keuntungan besar bagi VOC di wilayah tersebut.

Peninggalan Sejarah Kesultanan Gowa-Tallo

Beberapa peninggalan sejarah yang masih ada hingga kini antara lain:

  • Benteng Somba Opu: Pernah menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan kesultanan.
  • Benteng Fort Rotterdam: Awalnya bernama Benteng Ujung Pandang, digunakan oleh VOC setelah Perjanjian Bongaya.
  • Istana Balla Lompoa: Istana kerajaan yang kini menjadi museum.
  • Masjid Tua Katangka: Masjid tertua di Sulawesi Selatan yang dibangun pada masa kesultanan.

Peninggalan-peninggalan ini menjadi saksi bisu kejayaan dan sejarah panjang Kesultanan Gowa-Tallo di Nusantara.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya