Menu Tutup

Struktur Pemerintahan dan Daftar Sultan Kesultanan Ternate

Kesultanan Ternate, yang berdiri pada tahun 1257 oleh Baab Mashur Malamo, adalah salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Terletak di Kepulauan Maluku, kesultanan ini memainkan peran penting dalam sejarah Indonesia, terutama dalam perdagangan rempah-rempah dan penyebaran Islam di wilayah timur Nusantara.

Struktur Pemerintahan Kesultanan Ternate

Struktur pemerintahan Kesultanan Ternate berkembang seiring waktu, terutama setelah adopsi Islam sebagai agama resmi kerajaan. Berikut adalah komponen utama dalam struktur pemerintahan kesultanan:

  1. Sultan: Sebagai pemimpin tertinggi, sultan memegang otoritas penuh dalam urusan politik, militer, dan keagamaan. Gelar “sultan” mulai digunakan sejak pemerintahan Sultan Zainal Abidin pada akhir abad ke-15, menggantikan gelar sebelumnya, “kolano”.
  2. Jogugu (Perdana Menteri): Jogugu bertindak sebagai penasihat utama sultan dan mengoordinasikan administrasi pemerintahan sehari-hari. Peran ini mirip dengan perdana menteri dalam sistem pemerintahan modern.
  3. Fala Raha: Dewan penasihat yang terdiri dari empat kepala klan bangsawan, yaitu Marasaoli, Tomagola, Tomaito, dan Tamadi. Mereka mewakili empat momole pendiri awal kerajaan dan berperan dalam memberikan nasihat serta menjaga keseimbangan kekuasaan dalam kesultanan.
  4. Bobato Ma-Dopolo: Dewan eksekutif yang terdiri dari lima pejabat kerajaan dengan fungsi spesifik:
    • Jogugu: Menteri tingkat tertinggi yang mengatur kerja-kerja pemerintahan.
    • Kapita Lao: Panglima angkatan bersenjata yang bertanggung jawab atas pertahanan dan keamanan.
    • Hukum Soa Sio: Menteri Urusan Dalam Negeri yang mengurus administrasi internal kesultanan.
    • Hukum Sangadji: Menteri Luar Negeri yang menangani hubungan diplomatik dengan kerajaan atau negara lain.
    • Tuli Lamo: Sekretaris Kerajaan yang mengelola dokumentasi dan korespondensi resmi.
  5. Bobato Nyagimoi Se-Tufkange: Dewan perwakilan rakyat yang berfungsi sebagai penyeimbang kekuasaan eksekutif dan memastikan aspirasi rakyat terwakili dalam pemerintahan.
  6. Sadaha Kodato: Kepala rumah tangga istana yang bertanggung jawab atas urusan domestik dan operasional istana.

Struktur pemerintahan ini mencerminkan integrasi antara tradisi lokal dan pengaruh Islam, menciptakan sistem yang unik dan efektif dalam mengelola kerajaan.

Daftar Sultan Ternate

Berikut adalah daftar beberapa sultan yang pernah memerintah Kesultanan Ternate:

  1. Sultan Zainal Abidin (1486–1500): Sultan pertama yang mengadopsi Islam secara resmi dan mengganti gelar “kolano” menjadi “sultan”.
  2. Sultan Bayanullah (1500–1521): Memperkuat posisi Ternate dalam perdagangan rempah-rempah dan menghadapi kedatangan Portugis.
  3. Sultan Khairun Jamil (1535–1570): Berjuang melawan dominasi Portugis dan dibunuh secara licik oleh mereka, memicu perlawanan lebih lanjut dari Ternate.
  4. Sultan Baabullah Datu Syah (1570–1583): Mencapai puncak kejayaan dengan mengusir Portugis dari Maluku pada tahun 1575 dan memperluas wilayah kekuasaan kesultanan.
  5. Sultan Said Barakat Syah (1583–1606): Menghadapi tekanan dari kekuatan asing dan internal, serta awal mula interaksi dengan Belanda.
  6. Sultan Mudaffar Syah I (1607–1627): Menandatangani perjanjian dengan VOC pada tahun 1607, yang menandai awal pengaruh Belanda di Ternate.
  7. Sultan Hamzah (1627–1648): Berusaha mempertahankan kedaulatan kesultanan di tengah tekanan kolonial.
  8. Sultan Mandarsyah (1648–1675): Menghadapi tantangan internal dan eksternal, termasuk konflik dengan Kesultanan Tidore.
  9. Sultan Sibori Amsterdam (1675–1689): Dikenal dengan julukan “Amsterdam” karena hubungan diplomatik dengan Belanda.
  10. Sultan Said Fatahullah (1689–1714): Memimpin kesultanan dalam periode stabilitas relatif dan hubungan dengan kekuatan kolonial.

Daftar ini mencerminkan dinamika politik dan sosial yang dihadapi Kesultanan Ternate sepanjang sejarahnya, termasuk interaksi dengan kekuatan kolonial dan upaya mempertahankan kedaulatan.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya