Dinasti Fathimiyah : Sejarah Berdiri Hingga Keruntuhannya

Dinasti Fathimiyah adalah salah satu dinasti yang paling berpengaruh dalam sejarah Islam, dengan masa kejayaan yang mencakup hampir empat abad.

Didirikan pada abad ke-10, dinasti ini dikenal karena kemajuan yang mereka capai dalam berbagai bidang, seperti ilmu pengetahuan, seni, dan arsitektur, serta pengaruh politiknya yang meluas di Afrika Utara dan Timur Tengah.

Berdirinya Fathimiyah menandai awal dari pemerintahan yang menganut ideologi Syiah Ismailiyah, yang berbeda dengan mayoritas Sunni di dunia Islam saat itu. Namun, seiring berjalannya waktu, dinasti ini juga menghadapi tantangan besar yang akhirnya berujung pada keruntuhan mereka.

Dalam artikel ini, kita akan mengulas perjalanan Dinasti Fathimiyah, dari awal pendirian hingga kejatuhannya, serta bagaimana warisan mereka tetap meninggalkan jejak yang signifikan dalam sejarah dunia Islam.

Sejarah berdirinya Dinasti Fathimiyah.

Dinasti Fatimiyah didirikan pada tahun 297 H (910 M) dan berakhir pada 567 H (1171 M). Awalnya, dinasti ini hanya merupakan sebuah gerakan keagamaan yang berpusat di Afrika Utara, dan kemudian berpindah ke Mesir.

Dinasti ini mengklaim diri mereka sebagai keturunan langsung dari Fatimah Zahra, putri Nabi Muhammad SAW, dan istri Ali bin Abi Thalib RA. Namun, nasab keturunan Fatimiyah masih menjadi perdebatan di kalangan para sejarawan. Hingga saat ini, belum ada kesepakatan yang jelas mengenai hal ini, disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:

  1. Pergolakan Politik dan Madzha. Ketegangan politik dan perbedaan madzhab yang berkembang setelah wafatnya Rasulullah SAW.
  2. Kerahasiaan Nasab. Ketidakberanian keturunan Fatimiyah untuk mengungkapkan nasab mereka karena takut terhadap penguasa. Selain itu, nama-nama pemimpin mereka, mulai dari Muhammad bin Ismail hingga Ubaidillah al-Mahdi, sering disembunyikan.

Dinasti Fatimiyah beraliran Syiah Ismailiyah dan didirikan oleh Sa’id bin Husain al-Salamiyah yang bergelar Ubaidillah al-Mahdi. Ubaidillah al-Mahdi, yang sebelumnya berada di Suriah, pindah ke Afrika Utara karena menerima dukungan dari suku Berber Ketama. Dengan bantuan suku ini, Ubaidillah berhasil menggulingkan penguasa Aglabiyah di Afrika, serta mengalahkan Rustamiyah di Tahert dan Idrisiyah di Fez.

Pada awalnya, gerakan Syiah Ismailiyah tidak terlalu terang-terangan, namun pada masa Abdullah bin Maimun, gerakan ini mulai diorganisir sebagai sebuah gerakan politik dan keagamaan dengan tujuan mendirikan kekuasaan Fatimiyah. Secara rahasia, Abdullah mengirimkan misionaris ke berbagai wilayah Muslim untuk menyebarkan ajaran Syiah Ismailiyah. Kegiatan ini menjadi latar belakang berdirinya Dinasti Fatimiyah.

Setelah kematian Abdullah bin Maimun, kepemimpinan diteruskan oleh Abu Abdullah al-Husain yang berhasil menarik simpati suku Khitamah dari kalangan Berber yang tinggal di daerah Kabylie. Dengan dukungan suku ini, mereka menyeberang ke Afrika Utara dan mengalahkan pasukan Ziyadat Allah, penguasa Afrika Utara saat itu.

Gerakan Syiah Ismailiyah mulai menunjukkan kekuatannya setelah Sa’id bin Husain al-Islamiyah menggantikan Abu Abdullah al-Husain. Pada tahun 909 M, Sa’id menaklukkan Tunisia, yang saat itu merupakan pusat kekuasaan Daulah Aglabiyah, dan memproklamasikan dirinya sebagai imam dengan gelar Ubaidillah al-Mahdi.

Ubaidillah al-Mahdi mengklaim dirinya sebagai keturunan langsung dari Muhammad al-Habib, seorang cucu Imam Ismailiyah. Namun, beberapa kalangan Sunni berpendapat bahwa Sa’id berasal dari keturunan Yahudi, sehingga dinasti yang didirikannya awalnya dikenal dengan nama Dinasti Ubaidillah. Sementara itu, sejarawan seperti Ibn Khaldun, Ibn al-Asir, dan Philip K. Hitti berpendapat bahwa Sa’id berasal dari garis keturunan Fatimah, putri Nabi Muhammad SAW, yang bersambung hingga Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Ubaidillah al-Mahdi adalah khalifah pertama dari Dinasti Fatimiyah, yang memerintah selama sekitar 25 tahun (904–934 M). Selama pemerintahannya, ia melakukan perluasan wilayah ke seluruh Afrika, termasuk Maroko, Mesir, Malta, Alexandria, Sardinia, Korsika, dan Balearic Islands. Pada tahun 904 M, ia mendirikan kota baru di pesisir Tunisia yang diberi nama Mahdiyah, yang menjadi ibu kota pemerintahan.

Di Afrika Utara, kekuasaan Fatimiyah cepat berkembang. Pada tahun 909 M, mereka berhasil menguasai Dinasti Rustamiyah dan Tahert, serta menyerang Bani Idris di Maroko. Salah satu pencapaian pertama Daulah Fatimiyah adalah meyakinkan umat Islam bahwa mereka adalah keturunan sah dari Fatimah binti Rasulullah SAW, istri Ali bin Abi Thalib.

Daulah Fatimiyah mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Tamin Ma’Abu Daud yang bergelar al-Mu’iz (953–997 M). Al-Mu’iz berhasil menaklukkan Mesir dan memindahkan pusat pemerintahan ke sana. Pada masa ini, rakyat merasakan kemakmuran berkat kebijakan-kebijakan yang meningkatkan kesejahteraan mereka.

Pembangunan fisik seperti masjid, rumah sakit, penginapan, jalan utama yang dilengkapi lampu, dan pusat perbelanjaan berkembang pesat. Bidang kerajinan dan perdagangan juga maju, termasuk tenunan, keramik, perhiasan emas dan perak, peralatan kaca, serta obat-obatan.

Keberhasilan lainnya tercatat dalam bidang ilmu pengetahuan. Penguasa Fatimiyah mendukung minat masyarakat terhadap ilmu pengetahuan dengan mendirikan Dar al-Hikmah pada tahun 1005 M dan perguruan tinggi al-Azhar (yang sebelumnya merupakan sebuah masjid). Di sini, diajarkan berbagai ilmu seperti kedokteran, fiqh, tauhid, bahasa Arab, mantiq, dan lain-lain.

Perkembangan dan kemajuan Dinasti Fatimiyah.

Pada masa pemerintahan Dinasti Fatimiyah, persoalan agama dan negara tidak dapat dipisahkan. Agama dianggap sebagai pilar utama dalam menegakkan negara. Oleh karena itu, pemerintah Fatimiyah sangat memperhatikan masalah keberagamaan masyarakat, meskipun ada kelompok yang dianggap sebagai warga negara kelas dua, seperti orang Yahudi, Nasrani, Turki, dan Sudan.

Menurut Ali, mayoritas khalifah Fatimiyah bersikap moderat dan sangat perhatian terhadap urusan agama non-Muslim. Orang-orang Kristen, khususnya Kristen Koptik dan Armenia, tidak merasakan kemurahan hati dan keramahan selain dari pemerintahan Muslim. Banyak orang Kristen, seperti al-Barmaki, yang diangkat menjadi pejabat pemerintah dan rumah ibadah mereka dipugar oleh pemerintah.

Namun, kemurahan hati yang ditunjukkan oleh Khalifah Fatimiyah terhadap orang Kristen menimbulkan isu negatif. Al-Mu’iz, yang dikenal dengan kewarakan dan ketaqwaannya, bahkan diisukan telah murtad, mati sebagai orang Kristen, dan dikuburkan di gereja Abu Siffin di Mesir kuno. Menurut Hasan, isu tersebut tidak benar, karena tidak ada sejarawan yang mencatat hal tersebut.

Isu itu hanya cerita karangan (khurafat) yang sengaja disebarkan oleh orang-orang yang tidak senang padanya, termasuk sisa-sisa penguasa Abbasiyah yang berusaha melemahkan kekuatan Fatimiyah.

Agama yang didakwahkan oleh Fatimiyah adalah ajaran Islam menurut pemahaman Syi’ah Ismailiyah yang ditetapkan sebagai mazhab negara. Oleh karena itu, para missionaris daulah Fatimiyah sangat gencar mengembangkan ajaran tersebut dan berhasil menarik banyak pengikut. Masa kekuasaan Fatimiyah dipandang sebagai era kebangkitan dan kemajuan mazhab Syi’ah Islamiyah.

Meskipun para khalifah Fatimiyah cenderung moderat, mereka tidak segan-segan menghukum mati orang-orang yang menolak untuk mengakui ajaran Syi’ah Islamiyah. Pada tahun 391 H, Khalifah al-Hakim membunuh seorang laki-laki yang tidak mau mengakui keutamaan Ali bin Abi Thalib. Pada tahun 395 H, al-Hakim juga memerintahkan agar di masjid, pasar, dan jalan-jalan ditempelkan tulisan yang mencela para sahabat Nabi Muhammad SAW.

Peran agama sangat diperhatikan oleh penguasa Fatimiyah untuk tujuan mempertahankan kekuasaan. Sikap tegas terhadap orang yang menolak mazhab Ismailiyah dilakukan untuk menghindari munculnya instabilitas negara. Al-Hakim, misalnya, untuk menjaga hubungan baik dengan rakyat yang berpaham Sunni, mulai bersikap lunak dengan menetapkan larangan mencela sahabat Nabi, khususnya Khalifah Abu Bakar dan Umar.

Al-Hakim juga mendirikan madrasah khusus yang mengajarkan paham Sunni dan memberikan bantuan buku-buku bermutu, sehingga warga Syi’ah merasa lebih nyaman di kawasan yang mayoritas Sunni.

Sikap para khalifah Fatimiyah tidak sekejam yang dilakukan oleh Abdullah al-Saffah yang berusaha menghapus pengaruh Bani Ummayyah di awal masa kekuasaannya. Dalam hal ini, para khalifah Fatimiyah memberlakukan masyarakat secara adil selama mereka bersedia mengikuti ajaran Syi’ah Ismailiyah, yang merupakan mazhab negara. Ketidaksenangan Fatimiyah terhadap Abbasiyah tidak disikapi dengan kekerasan. Hanya saja, khalifah Fatimiyah melarang menyebut-nyebut nama Bani Abbasiyah dalam khutbah Jumat dan mengharamkan pemakaian jubah hitam serta atribut lainnya yang terkait dengan Abbasiyah. Pakaian yang dipakai untuk khutbah adalah warna putih.

Meskipun al-Mu’iz berhasil menumpas pemberontakan, ia selalu berusaha menempuh jalan damai dengan para pemimpin daerah dan gubernur. Banyak di antara mereka yang sebelumnya adalah gubernur yang diangkat oleh khalifah Abbasiyah bersedia mengikuti mazhab Ismailiyah setelah dijanjikan penghargaan. Hal yang sama berlaku juga bagi sebagian pemeluk Yahudi dan Nasrani, yang bersedia masuk Islam dan menganut mazhab Ismailiyah ketika ditawarkan jabatan tertentu dalam pemerintahan.

Tindakan tegas dalam bentuk hukuman mati baru dilakukan terhadap orang yang menolak paham Ismailiyah. Salah satu peristiwa yang diambil tindakan tegas adalah ketika Raja Muda Zarida di Afrika, Mu’iz ibn Badis, menghina Dinasti Fatimiyah dengan tidak menyebut nama Khalifah Fatimiyah al-Muntasir dalam khutbah Jumat, melainkan menyebut nama Khalifah Abbasiyah.

Kejadian ini tidak diambil tindakan tegas karena al-Muntasir lebih tertarik pada pemberontakan Al-Bassasiri terhadap pemerintahan Abbasiyah, yang ia anggap sebagai kesempatan untuk menegakkan kembali kekuasaannya di Asia Barat setelah Tughril menegakkan kekuasaan Abbasiyah di wilayah tersebut.

Dalam bidang administrasi pemerintahan, tidak banyak perubahan terjadi. Sistem administrasi yang dikembangkan oleh Khalifah Abbasiyah masih terus dipraktikkan. Khalifah menjabat sebagai kepala negara, baik dalam urusan keduniaan maupun spiritual. Ia berwenang mengangkat dan memberhentikan pejabat-pejabat di bawahnya.

Selain itu, sakralisasi khalifah yang muncul pada masa pemerintahan Abbasiyah masih dipertahankan, yang dapat dilihat dari gelar yang disandang oleh khalifah-khalifah Fatimiyah seperti al-Mu’iz dinillah, al-Aziz billah, al-Hakim bin Amrullah, dan sebagainya.

Tiga Hal yang Dapat Disoroti mengenai Perkembangan dan Kemajuan Dinasti Fatimiyah

  1. Kemajuan Administrasi Pemerintahan .
    Pengelolaan negara oleh Dinasti Fatimiyah dilakukan dengan membagi kementerian menjadi dua kelompok:

    • Kelompok militer, yang terdiri dari pejabat militer, pengawal khalifah, petugas keamanan, dan resimen.
    • Kelompok sipil, yang terdiri dari qadhi (hakim), direktur percetakan uang, ketua dakwah, inspektur pasar, bendaharawan negara, kepala urusan rumah tangga raja, petugas pembaca Al-Qur’an, dan sekretaris berbagai departemen.
      Selain pejabat pusat, di setiap daerah terdapat pejabat setingkat gubernur yang diangkat oleh khalifah untuk mengelola daerahnya.
  2. Penyebaran Faham Syi’ah. 
    Setelah al-Mu’iz menguasai Mesir, di kawasan ini berkembang empat mazhab fikih: Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali, sedangkan al-Mu’iz sendiri menganut mazhab Syi’ah. Al-Mu’iz mengangkat hakim dari kalangan Sunni dan Syi’ah, tetapi jabatan-jabatan penting diserahkan kepada ulama Syi’ah, sementara Sunni hanya menduduki jabatan rendahan. Pada tahun 973 M, hampir semua jabatan di bidang politik, agama, dan militer dipegang oleh Syi’ah. Al-Mu’iz juga membangun toleransi agama, sehingga pemeluk agama lain, seperti Kristen, diperlakukan dengan baik, dan di antara mereka diangkat menjadi pejabat istana. Propaganda Syi’ah Ismailiyah semakin tersebar luas melalui agen rahasia dan berkembang ke Palestina.
  3. Perkembangan Ilmu Pengetahuan. 
    Dinasti Fatimiyah memberikan perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Mereka mendirikan Masjid Al-Azhar yang kemudian menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan tempat berdirinya Universitas Al-Azhar, yang kini menjadi salah satu perguruan tinggi Islam tertua dan paling dihormati oleh ulama Sunni. Al-Hakim mendirikan Daar al-Hikmah, lembaga pendidikan yang sejajar dengan lembaga pendidikan di Cordoba dan Baghdad. Perpustakaan Daar al-Ulum yang mengandung berbagai buku ilmu pengetahuan digabungkan dengan Daar al-Himmah. Beberapa ulama terkemuka pada masa ini antara lain Muhammad al-Tamimi (fisika dan kedokteran), al-Kindi (sejarah dan filsafat), al-Nu’man (hukum), Ali bin Yunus (astronomi), dan Ali al-Hasan bin al-Khaitami (fisika dan optik).

Selain itu, kemajuan dalam bidang pembangunan fisik juga sangat luar biasa. Bangunan-bangunan besar seperti masjid, universitas, rumah sakit, dan penginapan megah dibangun. Jalan-jalan utama dilengkapi dengan lampu warna-warni, dan dalam bidang industri, kemajuan besar dicapai, terutama yang berkaitan dengan militer seperti alat perang dan kapal.

Puncak Kejayaan Dinasti Fatimiyah.

Sepanjang kekuasaan Abu Mansyur Nizar al-Aziz (975-996), Kerajaan Mesir senantiasa diliputi kedamaian. Ia adalah khalifah Fatimiyah yang kelima dan khalifah pertama yang memulai pemerintahan di Mesir. Di bawah kekuasaannyalah dinasti Fatimiyah mencapai puncak kejayaannya. Nama sang khalifah selalu disebutkan dalam khutbah-khutbah jum’at disepanjang wilayah kekuasaanya yang berbentang dari Atlantik hingga laut Merah, juga di mesjid-mesjid Yaman, Mekkah, Damaskus, Bahkan di Mosul. Kalau dihitung-hitung, kekuasannya meliputi wilayah yang sangat luas.

Di bawah kekuasaannya kekhalifahan Mesir tidak hanya menjadi lawan tangguh bagi kekhalifaan di Baghdad, tapi bisa dikatakan bahwa kekhalifaan itu telah menenggelamkan penguasa Baghdad dan ia berhasil menempatkan kekhalifaan Fatimiyah sebagai negara Islam terbesar di kawasan Meditera Timur.

Al-Aziz menghabiskan dua juta dinar untuk membangun istana yang dibangun menyaingi istana Abbasiyah, musuhnya yang diharapkan akan dikuasai setelah Baghdad berhasil ditaklukkan.

Seperti pendahulunya ia melirik wilayah Spanyol, tetapi khalifah Kordova yang percaya diri itu ketika menerima surat yang pedas dari raja Fatimiyah memberikan balasan tegas dengan berkata, “Engkau meremehkan kami karena kau telah mendengar tentang kami. Jika kami mendengar apa yang telah dan akan kau lakukan kami akan membalasnya”.

Bisa dikatakan bahwa diantara para khalifah Fatimiyah khalifah Al-Aziz adalah khalifah yang paling bijaksana dan paling murah hati. Dia hidup di kota Kairo yang mewah dan cemerlang, dikelilingi beberapa mesjid, istana, jembatan, dan kanal-kanal yang baru, serta memberikan toleransi yang terbatas kepada umat Kristen, sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Sikap dan prilakunya ini tidak pelak lagi dipengaruhi oleh wazirnya yang beragama Kristen “Isa ibn Nasthir” dan isterinya yang berasal dari Rusia, ibu dari anak laki-laki dan pewarisnya, Al-Hakim, saudara perempuan dari dua bangsawan keluarga Melkis yang berkuasa di Iskandariyah dan Yerussalem.

Menurut Harun Nasution, dalam masa kejayaan ini tergores sejarah yang menunjukkan kegemilangan Fatimiyah bahwa salah satu golongan sekte syiah yang bernama Qaramithah (Carmatian) yang dibentuk oleh Hamdan Ibnu Qarmat di akhir abad IX, menyerang Makkah pada tahun 951 M dan merampas Hajar Aswad dengan mencurinya selama dua puluh tahun. Hal ini disebabkan mereka meyakini bahwa hajar aswad adalah merupakan sumber takahayul. Gerakan ini menentang pemerintahan Pusat Bani Abbas, namun Hajar Aswad ini akhirnya dikembalikan oleh Bani Fathimiyah setelah didesak oleh kalifah Al Mansur pada tahun 951 M.

Masa Kemunduran dan Runtuhnya Dinasti Fatimiyah.

Gejala-gejala yang menunjukkan kemunduran dinasti Fatimiyah telah terlihat di penghujung masa pemerintahan Al-Aziz namun baru kelihatan wujudnya pada masa pemerintahan al-Muntasir yang terus berlanjut hingga berakhirnya kekuasaan adalah Fatimiyah pada masa pemerintahan al-Adid 567 H / 1171 M.[3]

Adapun faktor yang menyebabkan kemunduran dan runtuhnya dinasti Fatimiyah dapat diklarifikasikan kepada faktor internal dan eksternal:

  1. Faktor Internal

Faktor internal yang paling signifikan dalam menghantarkan kemunduran dinasti Fatimiyah adalah di karenakan lemahnya kekuasaan pemerintah. Menurut Ibrahim Hasan, para khalifah tidak lagi memiliki semangat juang yang tinggi seperti yang ditunjukkan para pendahulu mereka ketika mengalahkan tentara Berber di Qairawan. Kehidupan para khalifah yang bermewah-mewah merupakan penyebab utama hilangnya semangat untuk melakukan ekspansi.

Selain itu, para khalifah kurang cakap dan memerintah sehingga roda pemerintahan tidak bejalan secara efektif, ketidak efektifan ini dikarenakan khalifah yang diangkat banyak yang masih berusia relatif muda sehingga kurang cakap dalm mengambil kebijakan. Tragisnya mereka ibarat boneka ditangan para wajir karena peranan wajir begitu dominan dalam mengatur pemerintahan. Fenomena ini muncul pasca wafatnya al-Aziz, setelah al-Aziz wafat ia digantikan puternya bernama Abu Mansur al-Hakim yang pada saat pengangkatannya masih berusia 11 tahun. Kebijakan dalam pemerintahannya sangat tergantung kepada keputusan Gubernur bernama Barjawan yang meskipun pada akhirnya dihukum al-hakim karena penyalahgunaan kekuasaan.

Bukti lain ketidakcakapan khalifah adalah munculnya perlawanan orang Kristen terhadap penguasa. Perlawanan ini muncul dikarenakan orang Kristen tidak senang dengan maklumat al-Hakim yang dianggap menghilangkan hak-hak mereka sebagai warga negara. Maklumat tersebut berisikan tiga alternatif pilihan yang berat bagi orang Kristen. Masuk Islam, atau meninggalkan tanah air, atau berkalung salib sebagai simbol kehancuran.

Setelah al-Hakim wafat, ia digantikan puteranya bernama Abu Hasyim Ali yang bergelar al-Zahir. Pada saat pengangkatannya al-Zahir masih berusia 16 tahun dan kebijakan pemerintahan berada ditangan bibinya bernama Siti al-Mulk, sepeninggalan bibinya al-Zahir menjadi raja boneka ditangan para wajirnya. Pengangkatan khalifah dalam usia relatif muda masih terus berlanjut hingga masa akhir pemerintahan daulah Fatimiyah, bahkan khalifah ke tiga belas yang bernam al-Faiz dinobatkan pada saat masih balita nanun keburu meninggal dunia sebelum berusia dewasa. Sementara khalifah terakhir bernam al-Adid dinobatkan disaat berusia sembilan tahun.

Faktor lainnya diperparah oleh peristiwa alam. Wabah penyakit dan kemarau panjang sehingga sunagi Nil kering, menjadi sebab perang saudara. Setelah meninggal Abu Tamim Ma’ad al Muntashir diganti oleh anaknya al Musta’li. Akan tetapi Nizar, (anak Abu Tamim Ma’ad yang tertua) melarikan diri ke Iskandariyah dan menyatakan diri sebagai khalifah. Oleh sebab ini fatimiyah terpecah menjadi dua.

Selain itu, faktor internal lainnya sebagai penyebab kehancuran dinasti Fatimiyah adalah persaingan dalam memperoleh jabatan dikalangan wajir. Pada masa al-Adid sebagai khalifah terakhir misalnya, terjadi persaingan antara Abu Sujak Syawar dan Dargam untuk merebutkan jabatan wajir yang akhirnya dimenangkan Dargam. Karena sakit hati, Syawar meminta bantuan Nur Al-Din al-Zanki untuk memulihkan kekuasannya di Mesir, jika berhasil ia berjanji untuk menyerahkan sepertiga hasil penerimaan negara kepadanya.

Tawaran ini diterima Nur al-Din, lalu ia mengutus pasukan dibawah pimpinan Syirkuh dan keponakannya Salah al-Din al-Ayyubi. Pasukan ini mampu mengalahkan Dargam sehingga Syawar kembali memangku jabatan wazir dan memenuhi janjinya kepada Nur al-Din. Perebutan kekuasaan ditingkat wazir ini merupakan awal munculnya kekuasaan asing yang pada akhirnya mampu merebut kekuasaan dari tangan dinasti Fatimiyah dan membentuk dinasti baru bernama Ayyubiyah.

  1. Faktor Eksternal

Adapun faktor eksternal yang menjadi penyebab runruhnya dinasti Fatimiyah adalah menguatnya kekuasaan Nur al-Din al-Zanki di Mesir. Nur al-Zanki adalah Gubernur Syiria yang masih berada di bawah kekuasaan Bani Abbasiyah. Popularitas al-Zanki menonjol pada saat ia mampu mengalahkan pasukan salib atas permohonan khalifah al-Zafir yang tidak mampu mengalahkan tentara salib.

Dikarenakan rasa cemburunya kepada Syirkuh yang memiliki pengaruh kuat di istana dianggap sebagai saingan yang akan merebut kekuasaannya sebagai wazir, syawar melakukan perlawanan. Agar mampu menguat kekuasannya, Syawar meminta bantuan tentara Salabiyah dan menawarkan janji seperti yang dilakukannya terhadap Nural-Din. Tawaran ini diterima King Almeric selaku panglima perang salib dan melihatnya sebagai suatu kesempatan untuk dapat menaklukkan Mesir. Pertempuran pun pecah di Pelusium dan pasukan Syirkuh dapat mengalahkan pasukan salib.Syawar sendiri dapat ditangkap dan dihukum bunuh dengan memenggal kepalanya atas perintah khalifah Fatimiyah.

Dengan kemenangan ini, maka Syirkuh dinobatkan menjadi wazir dan pada tahun 565 H / 1117 M. setelah Syirkuh wafat, jabatan wazir diserahkan kepada Salah al-Din Ayyubi. Selanjutnya Salah al-Din mengambil kekuasaan sebagai khalifah setelah al-Adid wafat. Dengan berkuasanya Salah al-Din, maka diumumkan bahwa kekuasaan daulah Fatimiyah berakhir. Dan membentuk dinasti Ayyubiyah serta merubah orientasinya dari paham syi’ah ke sunni.

Khalifah Fatimiyah berakhir pada tahun 567 H / 1117 M. Untuk mengantipasi perlawanan dari kalangan Fatimiyah, Salah al-Din membangun benteng bukit di Muqattam dan dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan militer. Yang kini bangunan benteng tersebut masih berdiri kokoh di kawasan pusat Mishral qadim (Mesir lama) yang terletak tidak jauh dari Universitas dan juga dekat dengan perumahan Mahasiswa Asia di Qatamiyah.[4]

[1] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta: Prenada Media, 2003), h. 243

[2] Abati Hawa. 2008. Dinasti Fatimiyah, http://abatihawa.blogspot.com/2008/07/dinasti-fatimiah-297-h-322-h-910-m-934.html. 10 Juni 2013.

[3] Musyrifah Sunanto, Op. Cit., h. 245

[4] Ibrahim. 2012. Makalah Dinasti Fathimiyah, http://makalahmajan naii.blogspot.com/2012/05/dinasti-fathimiyah.html.12 Juni 2013.

Menu Utama