Sejarah Daulah Umayah 1 di Syiria, Pembentukan Hingga Keruntuhannya

1.   Pembentukan Pemerintahan

Setelah khalifah Ali meninggal dunia bulan Ramadhan 40 H, penduduk Kufah mengangkat putranya, Hasan menjadi khalifah mereka walaupun sebenarnya dia tidak berbakat menjadi khalifah karena lebih suka hidup bersenang-senang dan kawin dengan banyak wanita. Pernah juga dia menantang Muawiyah dengan mengirim 12.000 orang pasukan untuk menyerang Muawiyah. Akan tetapi pasukannya kalah dan dia mengajak Muawiyah berdamai.

Sementara itu, penduduk Syam pun telah mengangkat Muawiyah menjadi khalifah mereka semenjak peristiwa tahkim. Berbeda dengan Hasan, dia didukung oleh tentaratentara militan yang keperluan finansial mereka ditanggung Muawiyah, apalagi tanah Syam yang kaya raya mendukung Muawiyah untuk hal itu.

Nama lengkapnya Muawiyah bin Abi Sofyan bin Harb bin Umayah bin Abd al-Syams bin Abd Manaf bin Qushai. Ibunya Hindun binti Utbah bin Rabiah bin Abd al-Syams. Muawiyah dilahirkan di Makkah lima tahun sebelum kerasulan Nabi Muhammad s.a.w. dan masuk Islam bersama ayahnya Abu Sofyan) saudaranya (Yazid) dan ibunya (Hindun) pada waktu penaklukan kota Makkah.[1]

Muawiyah adalah salah seorang yang ahli dan paling menguasai dunia politik, cerdik, ahli siasat, penguasa yang kuat dan bagus planingnya dalam urusan pemerintahan. Maka tidak mengherankan jika dia dapat menjadi gubernur selama dua puluh dua tahun (pada masa khalifah Umar dan Usman, 13-35 H.)dan menjadi khalifah selama dua puluh tahun (40-60 H).

Sementara Hasan, nama lengkapnya adalah Hasan bin Ali bin Abi Thalib bin Abd al-Muththtalib. Dia dilahirkan di Madinah tahun ketiga hijrah, cucu Nabi dari putrinya Fatimah. Namanya diberikan oleh kakeknya Rasulullah dan Nabi sangat mencintai cucunya itu. “Hasan dan Husein memberi rasa harum bagiku di dunia” kata Nabi Muhammad s.a.w.[2]

Hasan ikut dalam ekspedisi penaklukan ke Afrika Utara dan Tabaristan pada masa khalifah Utsman bin Affan. Ikut melindungi Khalifah dari serangan pemberontak dan ikut dalam perang Jamal dan Shiffin bersama ayahnya. Hasan meninggal dunia di Madinah pada tahun 49 H. karena diracun oleh salah seorang isterinya. Munurut orang Syi’ah, sudah berulang kali suruhan Muawiyah hendak meracun Hasan agar Muawiyah terbebas dari membayar kompensasi yang dipikulnya terus menerus setiap tahun.[3]

Dengan demikian, dunia Islam sepeninggal khalifah Ali terdapat dua khalifah, yaitu di Kufah dan Syam, suatu hal yang tidak perlu terjadi apabila dikaitkan dengan perlunya menciptakan persatuan di kalangan umat Islam. Maka tawaran Hasan untuk berdamai merupakan suatu hal yang tepat untuk mengatasi masalah itu. Itulah sebabnya waktu Hasan mengajak Muawiyah berdamai langsung diterima Muawiyah karena dia sangat berambisi menjadi khalifah. Walaupun Hasan mengajukan beberapa syarat, bagi Muawiyah hal itu tidak ada persoalan, asalkan jabatan khalifah diserahkan Hasan bin Ali kepadanya. Adapun syaratsyaratnya, yaitu:

  1. Hasan menyerahkan jabatan khalifah kepada Muawiyah dengan syarat, Muawiyah berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasul serta sirah (prilaku) khalifah-khalifah yang saleh.
  2. Agar Muawiyah tidak mengangkat seseorang menjadi putera mahkota sepeninggalnya dan urusan kekhalifahan diserahkan kepada orang banyak untuk memilihnya.
  3. Agar Muawiyah tidak menaruh dendam terhadap penduduk Irak, menjamin keamanan dan memaafkan kesalahan mereka.
  4. Agar pajak tanah negeri Ahwaz di Persia diperuntukkan kepada Hasan dan diberikan setiap tahun.
  5. Agar Muawiyah membayar kepada saudaranya Husein sebanyak 5 juta dirham dari Baitul Mal.
  6. Agar Muawiyah datang secara langsung ke Kufah untuk menerima penyerahan jabatan khalifah dari Hasan dan mendapat baiat dari penduduk Kufah.4

116 M. Jamaluddin Surur, Al-hayat al-Siyasiyah fi al-Daulah al-Arabiyah alIslamiyah (Kairo: Dar al-Fikri al-‘Araby, 1975), h. 91.