Tafsir Bi Al-Ra’y : Pengertian, Sebab, Pendapat Ulama, Macam dan Contohnya

Pengertian Al-Tafsir Bi Al-Ra’y

Kata Al-ra’yu berasal dari akar kata راي ج- اراء. Memiliki kata jamak ārā’un atau ar’ā’un yang bisa berarti berpendapat. Sedangkan secara istilah bisa didefinisikan sebagaimana pendapat beberapa ulama yaitu :

  1. Tafsir Bi Al-Ra’y ialah tafsir yang didalam menjelaskan maknanya hanya berpegang pada pemahaman sendiri dan penyimpulan yang didasarkan pada ra’yu semata. Golongan ini telah menulis sejumlah kitab tafsir menurut pokok-pokok mazhab mereka, seperti tafsir (karya) Abdurrahman bin Kaisan al-asam, al-Juba’I, Abdul Jabbar,  Ar-Rummani, Zamakhsyari dan lain sebagainya.
  2. Tafsir Bi Al-Ra’y  ialah Tafsir berdasarkan ijtihad mufassir; pendapat atau ijtihadnya yang didasarkan atas sarana ijtihad.
  3. Muhammad Ali Ash Shaabuniy, ialah ijtihad yang didasarkan pada dalil-dalil yang shohih, kaidah yang murni dan tepat, bisa diikuti serta sewajarnya digunakan oleh orang yang hendak mendalami  tafsir Al-Qur’an atau mendalami pengertiannya.5

Dari beberapa pendapat diatas dapat penulis simpulkan bahwa tafsir bi al-ra’y adalah suatu metode tafsir dengan menggunakan kekuatan akal pikiran yang sudah memenuhi syarat dan memiliki pengakuan dari para ulama untuk menjadi seorang mufassir, namun penafsirannya harus tetap sejalan dengan hukum syari’ah tanpa ada pertentangan.

Tidaklah yang dimaksud dengan ra’yu ini dengan menafsirkan Al-Quran berdasarkan kata hati atau kehendaknya. Al- Qurtubi berkata “barang siapa yang menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan imajinasinya (yang tepat menurut pandangannya tanpa berdasarkan kaidah-kaidah) maka ia adalah orang yang keliru dan tercela.”

Dalam sebuah hadis diriwayatkan :

من كذّب عليّ متعمدا فليتبوُأ مقعده من النار, ومن قال فى القران برأيه فليتبوّ أ مقعده من النار. ( رواه التر مذ )

Artinya :

“Barang siapa mendustakan secara sengaja niscaya ia harus bersedia   menepatkan dirinya di neraka. Dan barang siapa yang menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan Ra’yu atau pendapatnya maka hendaklah ia bersedia menepatkan dirinya di neraka .”( H.R. Turmuzi dan Ibnu Abbas ) Dan sabdanya pula :

من قال فى القران برأ يه فاصاب فقد اخطأ

Artinya :

“Dan barang siapa yang menafsirkan Al-Qur’an dengan Ra’yunya dan kebetulan tepat, niscaya ia telah melakukan kesalahan.” (H.R. Abi Dawud dari Jundab)

Imam Al-Qurtuby, mengatakan bahwasannya hadits Ibnu Abbas tersebut memiliki dua penafsiran:

Pertama : Barang siapa yang berpendapat dalam persoalan Al-Qur’an yang pelik dengan tidak berdasarkan pengetahuan dari mazhab sahabat atau tabi’in berarti menentang Allah

Kedua : Barang siapa yang mengatakan tentang Al-Qur’an suatu pendapat, sedang ia mengetahui bahwa yang benar adalah pendapat yang lain, maka ia hanya bersedia menempatkan diri di neraka.