Tantangan Kaum Qurasy di Mekah

Dengan demikian, kaum Quraisy menentang dakwah Nabi dengan bertahap. Pertama, membujuk, karena kekuatan Nabi terletak pada perlindungan Abu Thalib yang amat disegani itu. mereka meminta Abu Thalib memilih satu di antara dua: yaitu memerintahkan Muhammad agar berhenti dari dakwahnya atau menyerahkannya kepada mereka untuk dibunuh. Abu Thalib mengharapkan Muhammad agar menghentikan dakwahnya. Namun Nabi menolak dengan mengatakan “Demi Allah saya tidak akan berhenti memperjuangkan amanat Allah ini. Walaupun seluruh anggota keluarga dan sanak saudara mengucilkan saya”. Abu Thalib sangat terharu mendengarkan jawaban keponakannya itu, kemudian ia berkata “Teruskanlah, demi Allah aku akan terus membelamu”.

Merasa gagal dengan cara ini, kaum Quraisy kemudian mengutus Walid bin Mughirah dengan membawa Umarah bin Walid, seorang pemuda yang gagah dan tampan untuk dipertukarkan dengan Nabi Muhammad s.a.w. Walid bin Mughirah berkata kepada Abu Thalib “Ambillah dia menjadi anak saudara, tetapi serahkan Muhammad kepada kami untuk kami bunuh”. Usul ini langsung ditolak keras oleh Abu Thalib.

Kecewa dengan jawaban Abu Thalib itu, mereka langsung kepada Nabi Muhammad s.a.w. membujuknya dengan menawarkan tahta, wanita dan harta asal Nabi bersedia menghentikan dakwahnya. Semua tawaran itu ditolak Nabi dengan mengatakan “Demi Allah, biarpun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti melakukan ini sehingga agama ini menang atau aku binasa karenanya”.

Kedua, mengintimidasi. Karena gagal dengan cara membujuk, para pemimpin Quraisy melakukan tindakantindakan kekerasan lebih intensif dari sebelumnya. Budakbudak yang masuk Islam disiksa tuannya dengan sangat kejam. Para pemimpin Quraisy menyuruh setiap keluarga untuk menyiksa anggota keluarganya yang masuk Islam sampai dia murtad kembali.

Untuk menghindarkan kaum muslim dari tindakan kekerasan ini, Nabi memerintahkan mereka hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Rombongan pertama, pada tahun kelima dari kerasulannya, di bawah pimpinan Usman bin Affan diikuti 15 orang (10 pria dan 5 wanita) berangkat ke Habasyah, termasuk isteri Usman, Rukayah bintiMuhammad.

Rombongan kedua, di bawah pimpinan JA’far bin Abi Thalib diikuti 81 orang (80 pria dan 1 wanita, yaitu Ummu Habibah, puteri Abu Sofyan). Mereka diterima raja Ethiopia, Negus. Mengetahui hal itu Pimpinan Quraisy mengirim Amr bin Ash dan  Abdullah bni Abi Rabi’ untuk membujuk raja Negus agar menolak kehadiran umat Islam di sana, tetapi Raja menolak permintaan mereka . Di tengah kekejaman pemimpin Quraisy terhadap umat Islam meningkat, dua orang kuat kaum Quraisy masuk Islam, Hamzah dan Umar bin Khaththab yang membuat posisi umat Islam semakin kuat.