Adab Bertakziah

Orang yang bertakziah endaknya memperhatikan hal-hal berikut :

  1. Takziah hendaknya didasari dengan niat yang ikhlas karena Allah serta dengan maksud memperoleh rida dan rahmat-Nya.
  2. Berpakaian yang sopan dan menutup aurat.
  3. Bersikap serta bertingkah laku yang baik, yang mendatangkan manfaat khususnya bagi jenazah dan keluarganya.
  4. Berdoa agar jenazah diampuni segala dosanya dan dirahmati oleh Allah SWT. Cara mendoakan jenazah dengan baik adalah dengan cara menyalatkannya.
  5. Jika dipandang perlu hendaknya memberi nasihatkepada keluarga jenazah agar bersabar, bertawakal, memelihara serta meningkatkan takwanya kepada Allah SWT. Keluarga jenazah hendaknya menyadari bahwa setiap manusia pada hakikatnya adalah milik Allah dan suatu saat pasti kembali kepadanya (meninggal dunia). Allah SWT berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah: 156 – 157)
  6. Memberikan bantuan uang atau lainnya yang diperlukan oleh keluarga jenazah. Terutama kalau keluarga jenazah termasuk fakir miskin, tentu mereka memerlukan bantuan dana untuk biaya pengurusan jenazah, bahkan mungkin untuk makan mereka. Kaum kerabat, tetangga dan sahabat karib dari keluarga jenzah hendaknya bergotong-royong untuk memberikan bantuan berupa makanan kepada mereka, karena mereka dalam kesusahan dan kekalutan, sehingga tidak terpikir untuk memasak makanan. Dalam sebuah hadits Nabi SAW disebutkan:“Dari Abdullah bin Ja’far katanya, ‘tatkala datang kabar meninggalnya Ja’far karena terbunuh, Rasulullah SAW bersabda: ‘Buatlah olehmu makanan untuk keluarga Ja’far karena mereka sedang menderita kesusahan (kekalutan).” (H.R. Lima orang al=hli hadits kecuali AN-Nasa’i)
  7. Mengingatkan keluarga jenazah (jika dianggap perlu) agar segera melunasi utang jenazah bila ia berutang, baik dibayar dari harta peninggalannya maupun dari pertolongan keluarga-keluarganya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW telah bersabda: ‘Diri orang mukmin itu tergantung (tak sampai ke akhirat Allah), karena utangnya, hingga dibayarklan dulu utangnya itu (oleh keluarganya)”(H.R. Ahmad dan Tirmizi)