Biografi Empat Imam Mazhab

Riwayat Hidup Imam Hanafi

Imam Abu Hanifah dikenal dengan sebutan Imam Hanafi bernama asli Abu Hanifah Nu’man ibn Tsabit Al Kufi, lahir di Irak (kufah) pada tahun 80 Hijrah ( 699 M). Ia hidup pada dua masa: masa kekhalifahan Bani Umayyah Abdul Malik bin Marwan dan masa Bani Abbas, Khalifah Al-Manshur. Digelar Abu Hanifah ( suci lurus) karena kesungguhannya dalam beribadah sejak masa kecilnya, berakhlak mulia, serta menjahui perbuatan dosa dan keji. Atjep Djazuli menjelaskan “Abu Hanifah diambil dari ayat Fattabi’umillata Ibrahima Hanifa ( maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus), Q.S. Ali Imran ayat 95.[1]

Imam Abu Hanifah dilahirkan pada tahun 80 H di kufah pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan ( Bani Umayyah).

Mengenai kelahiran Abu Hanifah, di antaranya ahli sejarah sebenarnya terdapat perbedaan. Ada di antara ahli yang menyebut tahun 61 H sebagai tahun kelahiran beliau, namun ada juga yang mengatakan tahun 70 H, di antara semua pendapat, yang paling kuat dan dapat digunakan adalah 80 H. jika Abu Hanifah lahir tahun 61 H, berarti beliau ditugaskan menjadi Qadhi pada usia Sembilan puluh tahun. Tentu saja ini tidak masuk akal. Tidak mungkin orang setua itu diberikan tugas berat yang berkaitan dengan kemaslahatan umat.[2]

Imam Abu Hanifah tinggal di kota kupah di Irak. Kota ini terkenal sebagai kota yang dapat menerima perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Ia seorang yang bijak dan gemar ilmu pengetahuan. Ketika ia menambah ilmu pengetahuan, mula-mula ia belajar sastra bahasa arab. Karena ilmu bahasa, tidak banyak dapat digunakan akal ( pikiran) ia meninggalkan pelajaran ini dan beralih mempelajari fiqih. Ia berminat pada pelajaran yang banyak menggunakan pikiran. Di samping mempelajari ilmu fiqih, beliau sempat juga mempelajari ilmuilmu yang lain, seperti tauhid dan lain-lain, beliau berpaling untuk memperdalam ilmu pengetahuan karena menerima nasihat seorang gurunya bernama Al-Sya’ab.[3]

Abu Hanifah memiliki seorang ayah bernama Thabit bin Zauty Al-Farisy,sementara kakeknya merupakan penduduk Kabul, sebuah kota di Afganistan,[4] ibu Abu Hanifah tidak terkenal dikalangan ahli-ahli sejarah tetapi walau bagaimanapun ia menghormati dan sangat taat kepada ibunya.[5] Keluarga Abu Hanifah sebenarnya adalah keluarga pedagang di sendiri sempat terlibat dalam urusan perdagangan namun hanya sebentar sebelum dia memutuskan perhatian pada soal-soal keilmuan.

Imam Abu Hanifah dikenal sebagai orang yang sangat tekun dalam mempelajari ilmu. Sebagai gambaran, dia pernah belajar fiqih kepada ulama yang paling terpandang pada masa itu, yakni Humad Bin Abu Sulaiman, tidak kurang dari 18 tahun lamanya.