Kerajaan Gowa-Tallo, yang terletak di Sulawesi Selatan, memainkan peran penting dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia bagian timur. Transformasi kerajaan ini menjadi kesultanan Islam tidak lepas dari peran para mubalig dan tokoh lokal yang berpengaruh.
Awal Masuknya Islam ke Kerajaan Gowa-Tallo
Sebelum abad ke-17, masyarakat Gowa-Tallo menganut kepercayaan animisme. Pengaruh Islam mulai dirasakan melalui interaksi dengan para pedagang Muslim dari berbagai wilayah, seperti Campa, Patani, Johor, dan Minangkabau, yang menetap di Makassar. Mereka mendirikan komunitas Muslim dan membangun masjid di Mangallekanna pada masa pemerintahan Raja Gowa X, Tunipalangga (1546-1565).
Peran Tiga Datuk dari Minangkabau
Penyebaran Islam di Gowa-Tallo mencapai momentum signifikan dengan kedatangan tiga ulama dari Minangkabau, yang dikenal sebagai Datuk Tallua:
- Datuk ri Bandang (Abdul Makmur): Mengajarkan ilmu fikih dan berhasil mengislamkan Kerajaan Gowa-Tallo.
- Datuk ri Tiro (Nurdin Ariyani): Menyebarkan Islam di wilayah Tiro dan sekitarnya.
- Datuk Patimang (Sulaiman): Berperan dalam penyebaran Islam di Kerajaan Luwu.
Kedatangan mereka pada akhir abad ke-16 membawa ajaran Islam yang kemudian diterima oleh para penguasa lokal.
Pengislaman Raja Gowa dan Tallo
Pada tahun 1605, Raja Gowa XIV, I Mangarangi Daeng Manrabbia, memeluk Islam dan mengambil gelar Sultan Alauddin. Langkah ini diikuti oleh Raja Tallo, I Malingkang Daeng Manyonri, yang juga memeluk Islam dan bergelar Sultan Abdullah Awwalul-Islam. Dekrit yang dikeluarkan Sultan Alauddin pada 9 November 1607 menetapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan, mewajibkan seluruh rakyat untuk memeluk Islam.
Strategi Dakwah dan Penyebaran Islam
Para mubalig menggunakan pendekatan damai dalam dakwah mereka, menghindari konflik dan mengedepankan ajakan. Mereka memanfaatkan bahasa lokal dan budaya setempat untuk memperkenalkan ajaran Islam, serta menyebarkan Islam melalui pendidikan, pernikahan, dan ritual yang dipadukan dengan budaya lokal.
Dampak Penyebaran Islam di Gowa-Tallo
Setelah Islam menjadi agama resmi, terjadi perubahan signifikan dalam kehidupan sosial, budaya, dan politik kerajaan. Hubungan dengan kerajaan Islam lain di Nusantara menjadi lebih erat, dan pengaruh Islam tercermin dalam sistem pemerintahan, hukum, dan pendidikan di Gowa-Tallo.
Kesimpulan
Penyebaran Islam di Kerajaan Gowa-Tallo tidak lepas dari peran para mubalig seperti Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, dan Datuk Patimang, serta dukungan para penguasa lokal seperti Sultan Alauddin. Transformasi ini membawa perubahan besar dalam struktur sosial dan budaya kerajaan, menjadikan Gowa-Tallo sebagai pusat penyebaran Islam di Indonesia bagian timur.