Sistem Ekonomi Islam dan Kesejahteraan Umat

Akhlak ekonomi islam mengutamakan cara-cara yang benar

Upaya untuk mendapatkan keuntungan dalam usaha atau bisnis merupakan suatu hal yang lazim, asalkan menggunakan cara-cara yang benar. Di antara proses dan cara yang benar dalam mengambil keuntungan, antara lain :

  1. Tidak mengurangi dan mempermainkan takaran atau timbangan.
  2. Tidak menimbun barang atau komoditas vital yang dibutuhkan masyarakat
  3. Tidak melampaui batas dalam mengambil keuntungan, dan
  4. Tidak memotong jalur distribusi untuk menimbun barang yang mengakibatkan harga barang menjadi naik.

Mengutamakan cara dan proses yang benar dalam meraih keuntungan merupakan aspek penting dalam ekonomi Islam. Pendekatan yang diutamakan adalah pendekatan proses, bukan pendekatan hasil. Melalui pendekatan ini, akhlak dan etika berbisnis sangat diutamakan, sehingga usahanya selaras dengan tuntutan syariat sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.

Melalui cara ini, keuntungan yang di dapat memilik dua sisi, yaitu keuntungan yang berkaitan dengan masalah duniawi dan keuntungan yang berkaitan dengan masalah ukhrawi. Keuntungan tersebut tidak semata-mata hanya bersifat material, namun juga bersifat nonmaterial.

Meraih keuntungan atau kerugian dalam berbisnis menjadi sebuah hal yang lumrah. Seorang pebisnis tidak mungkin ingin merugi, begitu juga sebaliknya. Kita diingatkan di dalam Al-Qur’an Surah Fatir ayat 29 disebutkan tijaratan lan tabur yang berarti perniagaan yang tiada merugikan diraih jika kita melaksanakan tiga hal, yaitu :

  1. Senantiasa membaca Kitabullah
  2. Mendirikan Shalat, dan
  3. Memanfaatkan sebagian dari rezeki yang Allah swt berikan.

Kesejahteraan individu dan masyarakat

Segala sesuatu yang ada di bumi dan langit dan yang terkandung pada keduanya, menjadi milik Allah swt. Dialah yang menciptakannya dan Dia pula yang memelihara serta mengaturnya. Firman Allah swt dalam QS. Al-Jasiyah/45:13

Artinya : “Dan dia yang menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.”(QS. Al-Jasiyah/45:13)

Alam semesta diciptakan sebagai rezeki. Akan tetapi, rezeki tersebut berupa sesuatu yang masih perlu diolah. Manusia dengan segala potensinya harus berusaha mengubahnya menjadi barang jadi sesuai dengan kebutuhannya. Kebutuhan yang paling pokok adalah makan dan minum, meski untuk saak ini masih banyak kebutuhan yang di perlukan oleh manusia.

Salah satu tujuanekonomi islam adalah mencapai masyarakat sejahtera. Masyarakat sejahtera menurut ajaran Islam telah digambarkan oleh Al-Qur’an sengan istilah baldatun tayyibatun wa rabbun gafur.

Artinya : “Sungguh bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan disebelah kiri, (kepada mereka dikatakan) makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (Q.S Saba’/34:15)

Masyarakat makmur, damai, dan adil baru akan terwujud jika masyarakat itu menjalankan prinsip-peinsip yang digariskan oleh agama. Banyak ayat Al-Qur’an yang menyerukan penggunaan kerangka kerja perkenomian Islam, diantaranya Firman Allah swt dalam QS. Al-Baqarah/2:168

Artinya : “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baiuk yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu masih yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah/2:168)

Melalui pemahaman terhadap uraian tersebut, jelaslah bahwa ekonomi yang berlandaskan ajaran Islam adalah kegiatan perkenomian yang paling unggul, karena akan menciptakan pelaku bisnis yang berakhlak mulia.