Menu Tutup

Cara Khusyu dalam Ibadah

Untuk bisa mencapai ketundukan hati (khusyu’) dan menghadirkan hati, ada beberapa hal utama yang perlu diperhatikan.

  1. Perenungan ( tadabbur )
  2. Menangis
  3. Mengambil jeda aktifitas dan istirahat
  4. Memanfaatkan waktu-waktu dan tempat-tempat yang utama

1. Tadabbur

Tadabbur adalah memahami bacaan Al-Quran yang dibacannya. Juga isi zikir dan doa yang diucapkannya. Meski hanya secara umum. Begitupula dengan membayangkan makna bacaan nya.dan tujuan membaca ayat, zikir, atau doa itu.

Ketika membaca ayat-ayat al-Quran, seorang muslim hendaknya memposisikan diri sebagai target dari semua perintah dan larangan di ayat-ayat al-Quran yang sedang ia baca. Ini agar ia dapat merasakan kondisi sebagai seorang hamba, dan mengetahui kekurangan diri nya karena itu pula, ia mesti menghadirkan rasa takut kepada Allah swt. Serta bersungguh sungguh untuk taat kepada-Nya.

Karena itu dianurkan bagi seorang hamba untuk mengulang ulang bacaan beberapa ayat al-Quran saat ia bertilawah, agar dapat lebih mengundang suasana tadabbur dan khusyu’.

Abu Dzar r.a. menyampaikan bahwa Rasulullah saw pernah melakukan shalat dan mengulang ulang bacaan suatu ayat hingga waktu subuh.

Ubadah bin Hamzah masuk ke rumah Asma r.a. dan mendapati ia sedang membaca ayat,

    فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومَِ

“ Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka” (at-Thuur: 27)

            “ Saat itu Asma’ terus mengulang ulang ayat tersebut dan berdoa, karena terlalu lama menunggu, maka aku pergi ke pasar untuk suatu keperluan. Kemudian aku kembali, ternyata ia masih saja menggulang ulang ayat tersebut dan berdoa” kata Ubadah[1]

Seperti halnya membaca atau mendengarkan al-Quran kita juga di tuntut untk tafakur (merenung) di saat berzikir, menginggat Allah. Seorang hamba harus senantiasa menghadirkan kebesaran tuhannya di dalam hatinya. Dan merenungkan segala ciptaan-Nya, dan nikmat nikmat-Nya. Ia mesti merasakan derajat penhambaan dan merendahkan diri kepada tuhannya.

Selama berdoa kita juga dituntut untuk tadabbur, serta memilih doa-doa ma’tsuur yang dapat menggerakan hati dan melunakan kekerasannya. Memangil Tuhannya dengan merendah dan lemah dihadapannya, serta meminta apa yang dibutuhkan, dan ia yakin doannya akan diterima.

2. Menangis

Menangis adalah sifat orang-orang khusyu’ saat membaca Al-Quran atau saat mendengar ayat ayatnya, saat mengingat tuhannya atau berdoa kepada-Nya, dan saat menghadap tuhannya di dalam shalat. Ini merupakan hasil dari kensentrasi dan menghadirkan hati. Dalam sebuah firman-Nya Allah Ta’ala mengambarkan kondisi hamba hamba-Nya yang baik.

     إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا ۩

Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis..(Maryam: 58)

Abdullah bin Masud r.a pernah membacakan ayat-ayat surat an-Nissa kepada Rasulullah saw, kemudian beliau bersabda. “ Cukup” Abdullah bin Mas’ud berkata. “lalu aku berhenti. Aku melirih ke baliau , ternyata kedua mata beliau tampak berlinagan air mata.”(HR Bukhori dan Muslim)

Demikianlah keadaan Rasulullah saw. Para sahabatnya dan para salafus sholih saat mereka membaca ayat-ayat Al-Quran dan saat menginggat Allah swt. Mereka rindu, merintih dan menangis terisak-isak. Saat salah seorang dari mereka membaca ayat ang menyebut nyebut syurga, maka ia menangis karena merindukannya. Jika melewati ayat yang menyebut neraka, ia melolong seolah mendengar suara gelegak neraka di telinganya.

Jika seorang hamba tidak berhasil meraih kekhusyuann ini dan tidak meleleh air matanya, maka ia harus berupaya lebih keras untuk berupaya dengan sungguh sunguh terhadap dirinnya dan pura pura menangis menghadirkan rasa taku kepada Tuhannya. Sebab pura pura menangis ini juga merupakan metode untuk menghadirkan hati.

Rasulullah saw juga sudah mewasiatkan hal ini kepada umatnya, yang terdapat dalam hadist yang disampaikan oleh Saad bin Abi Waqash r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda.

Bacalah Al-Quran dan menangislah, jika kalian belum mampu menangis maka pura puralah menagis.”(HR Ibn Majah)

Untuk itu berkata Imam Suyuthi “ dianjurkan untuk menangis saat membaca Al-Quran Al Karim, dan pura puralah menagis bagi yang belum mampu dengan merasa sedih dan khusyu’[2]

3. Mengambil jeda dan Beristirahat

Tidak mungkin jiwa selalu berada dalam kondisi kerja dan semangat yang terus-menerus, kesibukan, kelelahan, penyakit dan emosi dapat menurunkan aktifits jiwa. Jika seorang hamba ingin menghadirkan rasa khusyu’ di dalam hatinya dalam kondisi kondsi seperti ini, terkadang ia akan sulit menemukan untuk mencapainnya. Menghadapi situasi seperti ini, ia sebaliknya sedikit beristirahat dan mengistirahatkan jiwa hingga ia mampu memperbaharui aktifitasnnya. Dengan demikian, ia dapat menghadirkan hati dan menenangkan jiwanya.ini lah yang dianjurkan oleh Rasulullah saw dalam beberapa hadits, antara lain.

“ Wahai manuia, kalian wajib melakukan semua pekerjaan sesuai kemampuan kalian, karena Allah tidak pernah bosan hingga kalian sendiri yang bosan.” (HR Muslim, dari Aisyah r.a)

Menurut Imam an-Nawawi, pada hadits ini terlihat betapa besarnya kasih sayang dan perhatian Rasulullah kepada umatnya, karena beliau membimbing mereka kepada hal hal yang dapat memperbaiki mereka. Hal itu dapat membuat mereka melakukan kegiatan rutin tanpa rasa berat dan resiko buruk. Jiwa akan lebih giat dan hati menjadi lapang.

Dari Jundab r.a berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,

“ Bacalah Al-Quran selama hati kalian menyatu (konsentrasi). Jika sudah bosan, maka berhentilah.” (HR Bukhori)

Seorang hamba yang mendapat taufik adalah orang yang mengisi waktu sehatnya, aktifitsnya, dan waktu luangnya dengan menjalankan berbagai ketaatan dan memeperbanyak ibadah sunat. Karena ia akan mendapatkan kemudahan untuk menghadirkan rasa khusyu’ dan meneteskan air mata, yang terkadang tidak dapat dilakukannya di waktu lelah dan payah.

Ibn Abbas r.a bertutur bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dua kenikamatan yang sebagian besar manusia tertipu di dalamnya, sehat dan waktu luang.”(HR Bukhori)

Namun setan memang takkan lelah menggoda manusia, untuk memalingkan diri kita dari aktifitas ibadah. Termasuk di saat jiwa kitas sedang bersemngat dan mampu menhadirkan hati bersama Tuhannya di saat shalat, zikir, dan doa. Setan akan datang dan mengajak kita untuk menunda nunda ibadah yang sangat bermanfaat itu. Setan juga akan membisikan ke hati kita bebagai kegiatan lain guna memalingkan kita dari tat kepada Allah swt. Karena itu Imam Hasan al-Bashri mengatakan, “ Hati hatilah denga menunda nunda. Karena milikmu adalah hari ini, bukan hari esok. Jika engkau dapat bertemu hari esok maka jadikan hari esok itu seperti hari ini. Namun jika engkau tak lagi bertemu hari esok kamu tidak akan menyesali apa yang tidak kamu lakukan hari ini.

4. Memanfaatkan Waktu-Waktu dan Tempat-Tempat yang Utama.

Allah swt, telah memberi keutamaan pada sebagian waktu dan tempat, dan menjadikannya sebagai tempat turunnya rahmat dan pengabulan doa. Diantara waktu-waktu tersebut adalah sepertiga malam yang terakhir yang terakhir dan waktu iijabah (dijawabnya doa) di setiap malam.

Jabir r.a mengatakan bahwa dirinnya mendengar Rasulullah saw bersabda,

“ Di malam ada waktu yang jika seorang muslim memohon kebaikan dunia dan di akhirat kepada Allah, maka akan dikabulkan oleh-Nya, dan itu ada pada setiap malam.”(HR Muslim)

Sedang tempat tempat yang paling mulia untuk beribadah adalah rumah Allah yang mulia(Baitullah al- Haraam), disis ka’bah yang mulia.dan Masjid Nabawi yang melingkupi salah satu taman syurga. Didalamnnya terdapat kebahagiaan bagi siapa saja yang diberi kesempatan oleh Allah untuk mengingat-Nya dan beribadah kepada-Nya di tempat yang mulia tersebut, yang dapat membuat hati menjadi Khusyu’ dan mengalirkan air mata.

Secara umum dijelaskan bahwa masjid merupakan tempat turunnya rahmat Allah. Siapa saja yang mengeluhkan kekerasan hatinya. Maka segeralah berangkat ke masjid, duduk di sana dengan rendah hati, dengan mantab memohon kepada Tuhannya, mengingat-Nya dan membaca ayat-ayat-Nya. berupaya dengan sungguh sungguh untuk khusyu’ dan merenung. Dan ketika ia melakukan itu maka hatinya akan hadir , dan tersingkirlah sifat lalai. Ketenangan batin akan mudah dicapai bagi orang yang dimudahkan oleh Allah padannya.

Lantas bagaimana dengan orang yang gagal mencapai ketenangan hati (khusyu’) saat berzikir dan tidak dapat menghadirkan hatinnya..? apakah ia harus meninggalkan ibadah zikir itu..?

Jawabannya adalah: Tidak! Sebab zikir dengan hati yang lalai itu masih lebih baik daripada diam, karena zikir itu telah menyibukan lidah dengan taat kepada Allah. Minimal itu akan menghalangi lidah dari berbuat maksiat. Zikir, meskipun dalam kadaan lalai. Tetap akan menjaga lidah dari bebrbagai kejahatan. Boleh jadi suatu waktu hati akan tergerak untuk khusyu’ hingga zikirnya dapat meningkat menjadi zikir hati dan lidah. Jika lidah berhenti berzikir, maka hati akan bertambah lalai, dan bisa hanyut dalam rutinitas kehidupan serta semakin jauh dari mengingat Tuhannya.

Jelaslah bahwa zikir tidak terbatas pada tasbih dan tahmid saja, namun juga mencangkup semua ketaatan yang diucapkan di lidah, dan diiringi dengan kehadiran hati. Untuk itu berkata Imam Ibn Taimiyah . “Sungguh semua yang diucapkan lidah dan digambarkan hati untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti menuntut ilmu dan mengajarkannya menyuruh berbuat baik dan melarang kemungkaran, merupakan bagian dari zikrullah.  

[1] At-Tilawaah fiil adab hamlah al-Quran imam an Nawawi hal 67

[2] Al-Itqaan fii’uluum Al-Quran, as Suyuthi, 1/297