Keringanan Syariat yang Didapat Seorang Musafir

S

yariat Islam memberikan banyak keringanan buat musafir dalam praktek ritual ibadah, setidaknya ada tiga yaitu thaharah, shalat dan puasa.

Keringanan Dalam Thaharah

Keringan syariat yang diperoleh musafir dalam hal bersuci diantaranya adalah sebagai berikut:

Mengusap Khuf Tiga Hari

Di antara keringanan dalam bersuci dalam dibolehkannya orang yang sedang dalam keadaan safar untuk mengusap khufnya saat berwudhu selama masa waktu tiga hari.

Pensyariatan mengusap khuff didasari oleh beberapa dalil antara lain hadis Ali r.a.

Dari Ali bin Abi Thalib berkata :’Seandainya agama itu semata-mata menggunakan akal maka seharusnya yang diusap adalah bagian bawah sepatu ketimbang bagian atasnya. Sungguh aku telah melihat Rasulullah mengusap bagian atas kedua sepatunya.(HR. Abu Daud dan Daru Qudni dengan sanad yang hasan dan disahihkan oleh Ibn Hajar)

Selain itu ada juga hadis lainnya

Rasulullah menetapkan tiga hari untuk musafir dan sehari semalam untuk orang mukim (untuk boleh mengusap khuff). (HR. Muslim Abu Daud Tirmizi dan Ibn Majah.)

Apakah Safar Membolehkan Tayammum?

Sebagian kalangan ada yang berpendapat bahwa tayammum dibolehkan bagi orang yang yang sakit, safar dan tidak ada air. Dasarnya menurut mereka sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran.

Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan kemudian kamu tidak mendapat air maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik ; sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.(QS. An-Nisa : 43)

Namun para ulama umumnya memahami bahwa yang menjadi ’illat dibolehkannya tayammum dari ayat di atas hanya dua saja, yaitu sakit dan tidak terdapatnya air.

Sedangkan safar meskipun disebutkan disitu namun tidak menjadi ’illat kebolehan tayammum. Penyebutan safar disitu lebih menunjukkan kebiasaan saja, yaitu biasanya di kala safar seseorang akan kesulitan mendapatkan air. Tetapi ketika dalam safar itu masih ditemukan air, tidak dibenarkan untuk melakukan tayammum.

Dalam hal ini Ibnu Taimiyah di dalam Majmu’ Fatawa menegaskan sebagai berikut :

Firman Allah (kamu tidak menemukan air) itu terkait dengan (dalam keadaan safar), bukan dengan sakit. Orang yang sakit itu bertayammumkalau mendapatkan air. Dan orang musafir hanya bertayammum ketika tidak mendapatkan air. (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, jilid 21 hal. 398)

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin punya pandangan yang sama bahwa kebolehan tayammum terbatas pada tidak ada air atau tidak mampu menggunakan air.