Pengertian Thabaqah, Pembagian Thabaqah Dan Manfaat Mengetahui Thabaqah

Pengertian Thabaqah

Secara harfiah thabaqah yaitu kaum yang serupa atau sebaya.[1]Sedangkan menurut Istilah Thabaqah yaitu kaum yang berdekatan atau yang sebaya dalam usia dan dalam isnad atau dalam isnad saja.[2]

Dalam pengertian lain thabaqah secara bahasa berarti hal-hal, martabat-martabat, atau derajat-derajat. Seperti halnya tarikh, thabaqah juga adalah bagian dari disiplin ilmu hadits yang berkenaan dengan keadaan perawi hadits. Namun keadaan yang dimaksud dalam ilmu thabaqah adalah keadaan yang berupa persamaan para perawi dalam beberapa hal, antara lain :

  1. Bersamaan hidup dalam satu masa;
  2. Bersamaan tentang umur;
  3. Bersamaan tentang menerima hadits dari syaikh-syaikhnya;
  4. Bersamaan tentang bertemu dengan syaikh-syaikhnya;

Thabaqah adalah kelompok beberapa orang yang hidup dalam satu generasi atau masa dan dalam periwayatan atau isnad yang sama atau sama dalam periwayatannya saja. Maksud berdekatan dalam isnad adalah satu perguruan atau satu guru atau diartikan berdekatan dalam berguru. Jadi para gurunya sebagian periwayat juga para gurunya sebagai perawi lain. Misalnya Thabaqah sahabat, Thabaqah tabi’in, Thabaqah tabi’it tabi’in dan seterusnya. Kemudian thabaqah masing-masing ini dibagi lagi menjadi beberapa thabaqah yang nanti akan dijelaskan pada pembahasannya.[3]

Dalam definisi yang lain terkait dengan thabaqah yaitu suatu ilmu pengetahuan yang dalam pokok pembahasannya diarahkan kepada kelompok orang-orang yang berserikat dalam satu pengikat yang sama.

Misalnya ditinjau dari alat pengikatnya, yaitu perjumpaanya dengan nabi(shuhbab), para sahabat itu termasuk dalam thabaqah pertama, para thabaqah tabi’in termasuk thabaqah kedua, para tabi’it-tabi’in termasuk dalam thabaqah ketiga, dan seterusnya.

Pengertian Ilmu Thabaqah

Ilmu thabaqah itu termasuk bagian dari ilmu rijalul hadits, karena objek yang dijadikan pembahasannya ialah rawi-rawi yang menjadi sanad suatu hadits. Hanya saja masalahnya berbeda. Kalau di dalam ilmu rijalul hadits para rawi dibicarakan secara umum tentang hal ihwal, biografi, cara-cara menerima dan memberikan hadits dan lain sebagainya. Maka dalam ilmuj thabaqah, menggolongkan para rawi tersebut dalam satu atau beberapa golongan, sesuai dengan alat pengikatnya.[4]

Asal mula pembagian perawi berdasarkan thabaqah adalah dari tuntutan Islam sendiri, dimana dalam hadits yang diriwayatkan dari Imran bin Husain r.a, bahwasannya Rasulullah saw. Bersabda : “Sebaik-baik umatku yang ada di zamanku, kemudian yang datang sesudah mereka, kemudian yang datang sesudah mereka..” Kata Imran r.a : “Saya tidak tahu apakah Beliau menyebut sesudah  masanya dua masa atau tiga” (HR. Bukhari).