Relasi Gender dan Ketidakadilan Gender

Sejarah perbedaan gender (gender difference) antara lakilaki dan perempuan tersebut mengalami proses yang sangat panjang. Oleh karena itu, terbentuknya perbedaan-perbedaan gender disebabkan oleh beberapa hal yang diantaranya terbentuk, disosialisasikan, diperkuat dan dapat juga dikonstruk secara sosial maupun kultural meliputi ajaran agama ataupun negara. Relasi gender merupakan kondisi dimana antara laki-laki dan perempuan didalam rumah tangga terdapat keserasian pola pembagian kerja yang tidak merugikan salah satu pihak. Relasi gender ada pada relasi keluarga antara suami dan istri dalam rumah tangga yang berdiri atas landasan sikap saling memahami, saling mengenal, saling tanggung jawab dan bekerjasama, serta kesetian dan keluhuran cinta demi kemajuan sebuah keluarga.[1]

Menurut perspektif gender, tujuan perkawinan akan tercapai apabila dalam keluarga tersebut dibangun atas dasar kesetaraan dan keadilan gender. Kesetaraan dan keadilan gender merupakan kondisi dinamis, laki-laki dan perempuan memiliki hak, kewajiban, peran, dan saling membantu di berbagai sektor kehidupan, untuk mengetahui apakah laki-laki dan perempuan di dalam keluarga telah setara dan berkeadsilan, dapat dilihat pada hal-hal berikut:

  1. Seberapa besar partisipasi dalam perumusan dan pengambilan keputusan atau perencanaan maupun dalam pelaksanaan segala kegiatan keluarga baik dalam wilayah dosmetik maupun publik.
  2. Sebeapa besar manfaat yang diperoleh perempuan dari hasil pelaksanaa berbagai kegiatan baik sebagai pelaku maupun sebagai pemanfaat dan pengikat hasilnya khususnya dalam relasi keluarga.
  3. Seberapa besar akses dan kontrol serta penguasaan perempuan dalam berbagai sumber daya manusia maupun aset keluarga seperti hak waris, hak memperoleh pendidikan, jaminan kesehatan, hak-hak reproduksi da sebagainya.

Menyadari betapa pentingnya relasi gender dalam upaya meningkatkan keadilan gender dewasa ini, penanganannya tidak hanya melibatkan istri, tetapi lebih ditujukan kepada keduanya (suami-istri) yang kemudian dikenal dengan istilah relasi gender. Dari relasi yang berkeadilan gender, muncul peran-peran komunitas antara keduanya baik peran domestik maupun publik.Misalnya, merawat anak, mengerjakan pekerjaan rumah, mencari nafkah, pengambil keputusan dan lain-lain.[2]

Persoalan yang terjadi adalah perbedaan gender yang telah melahirkan berbagai bentuk ketidakadilan, baik laki-laki maupun perempuan. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur dimana baik kaum laki-laki dan perempuan menjadi korban dari sistem tersebut.