Tuhan dalam Agama Islam

Al-Quran sebagai sumber pertama dan utama ajaran islam yang menjelaskan bahwa kehadiran Tuhan ada di dalam diri manusia/insan. Ini merupakan fitrah (bawaan) manusia sejak asal kejadian manusia sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran surat Ar-Rum: 30 yang berbunyi:

فَأَقِم وَجهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفا فِطرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيهَا لَا تَبدِيلَ لِخَلقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعلَمُونَ

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Serta dalam surat Al-A’raf ayat 172 yang berbunyi

 وَإِذ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِم ذُرِّيَّتَهُم وَأَشهَدَهُم عَلَىٰ أَنفُسِهِم أَلَستُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَومَ ٱلقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَن هَٰذَا غَٰفِلِينَ ١٧٢

Artinya:Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Apakah Tuhan itu? Menurut Fazlur Rahman dalam Major Themes of the Qur’an menjelaskan bahwa Tuhan dalam Islam adalah Allah. Disebutkan dalam Al-Quran lebih dari 2.500 kali, di luar penyebutan tentang substansi-Nya seperti al-rabb atau al-rahman.

Al-Jurjani dalam kitab al-Ta’rifat mendefinisikan kata Allah sebagai nama yang menunjuk kepada Tuhan yang sebenarnya (al-Ilah al-haqq), yang merupakan kumpulan makna bagi seluruh nama-nama-Nya yang baik (al-asma al-husna). Toshihiko Izutsu secara semantic menjelaskan bahwa Allah merupakan kata focus tertinggi dalam sistem Al-Qur’an. Pandangan teosentrik Al-Qur’an ini telah membuat konsep tentang Allah menjadi menguasai keseluruhan kandungan Al-Qur’an. Hingga pada masa nabi Muhammad berdakwah, orang-orang Arab Pagen telah memiliki kepercayaan yang kabur terhadap Allah sebagai Tuhan tertinggi. Saat ini kata “Allah” merupakan makna dasar ketuhanan. Yang kemudian dibawa masuk oleh sistem islam sehingga Al-Quran menggunakannya sebagai nama Tuhan dalam wahyu Islam. Tuhan dalam konteks ini dipahami sebagai dimensi yang memungkinkan adanya dimensi-dimensi lain. Dia memberikan arti dan kehidupan kepada sesuatu. Dia adalah tak terhingga, dan hanya Dialah yang tak terhingga. Menurut Yusuf Musa dalam Al-Quran wa al-Falsafah, keyakinann kaum muslim kepada Allah sebagai Tuhan YME, maha mengetahui, maha bijaksana, dan maha lainnya, merupakan akidah islamiyah tentang ketuhanan. Yang menjelaskan bahwa Allah adalah pencipta yang tidak memiliki awal dan akhir. Allah adalah mahakuasa dan maha mengetahui segala sesuatu yang ada dilangit dan bumi. Alam ini adalah ciptaan-Nya, yang diciptakan dari yang tidak ada. Lalu Musa menjelaskan bahwa akidah Islamiyah ini apabiladilihat dari sudut filsafat akan menemukan adanya dua wujud abadi  dan wujud zamani. Wujud abadi adalah wujud Yang Maha Sempurna secara mutlak. Adapun wujud zamani adalah alam yang ada sementara.keyakinan bahwa zaman itu tidak abadi, karena zaman ini diadakan oleh wujud yang abadi, artinya zaman memilikipermulaan dan pengakhiran.