Fiqih I’tikaf Lengkap dengan Dalil dan Penjelasannya

Melaksanakan ibadah i’tikaf adalah salah satu ibadah yang amat dianjurkan untuk dikerjakan, terlebih di bulan Ramadhan. Rasulullah – shallallaahu ‘alaihi wa sallam – terbiasa menjalankannya, khususnya di 10 hari terakhir Ramadhan.

Namun bukan berarti i’tikaf hanya dikerjakan pada bulan Ramadhan saja. Di luar bulan Ramadhan pun, i’tikaf tetap disyariatkan untuk dikerjakan.

Pengertian I’tikaf

Secara bahasa, i’tikaf (الاعتكاف) berasal dari bahasa arab ‘akafa (عكف), yang bermakna al-habsu (الحبس) atau memenjarakan. Allah – ta’ala – menggunakan istilah ‘akafa dalam bentuk ma’kufa (معكوفا) dalam salah satu ayat al-Quran dengan makna menghalangi.

Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidilharam dan menghalangi hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihan) nya. (QS. Al-Fath : 25)

Sedangkan dalam ilmu fiqih, definisi i’tikaf adalah

Berdiam di dalam masjid dengan tata cara tertentu dan disertai niat. (Ibnu Qudamah al-Maqdisi, al-Mughni syarah Mukhtashar al-Khiraqi, (Kairo: t.pn, 1968/1388), hlm. 2/183.)

Pada hakikatnya ritual i’tikaf tidak lain adalah shalat di dalam masjid, baik shalat secara hakiki maupun secara hukum.

Yang dimaksud shalat secara hakiki adalah shalat fardhu lima waktu dan juga shalat-shalat sunnah lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan shalat secara hukum adalah menunggu datangnya waktu shalat di dalam masjid. Sebagaimana sabda Nabi – shallallaahu ‘alaihi wa sallam -.

Dari Abu Hurairah: Rasulullah – shallallaahu ‘alaihi wa sallam – bersabda: Dan jika seorang hamba shalat (di masjid), malaikat akan senantiasa mendoakannya selama ia berada di dalam masjid, ”Allahumma sholli ’alihi, Allahuma irhamhu,” dan dia masih terhitung shalat (pahalanya sama seperti shalat), selama menunggu waktu shalat lainnya.(HR. Bukhari)

I’tikaf adalah ibadah penyerahan diri kepada Allah – ta’ala -, dengan cara memenjarakan diri di dalam masjid, dan menyibukkan diri dengan berbagai bentuk ibadah yang layak dilakukan di dalamnya. Di mana ia memiliki misi, untuk berupaya menyamakan dirinya layaknya malaikat yang tidak bermaksiat kepada Allah, mengerjakan semua perintah Allah, bertasbih siang malam tanpa henti.

Para ulama sepakat bahwa praktek i’tikaf disyariatkan di dalam Islam. Sebagaimana termaktub dalam al-Quran dan Sunnah.

Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud”.(QS. Al-Baqarah: 125)

“… janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid.” (QS. Al-Baqarah : 187)