5 Keutamaan Lailatul Qadar

29

Ada banyak keutamaan yang bisa disematkan kepada malam Qadar ini, antara lain :

Malam Turunnya Al-Quran

Sudah menjadi ijma’ di tengah ulama bahwa malam Qadar adalah malam diturunkannya Al-Quran Al-Karim. Dalil tentang hal itu adalah firman Allah SWT di dalam surat Al-Qadar :

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam Qadar. (QS. Al-Qadar : 1-3)

Al-Quran adalah kitab suci yang paling mulia, yang merupakan mukjizat utama Rasulullah SAW. Kitab suci yang abadi dan keabadiannya dijamin Allah SWT sampai nanti terjadi hari kiamat.

Meski sudah lama diketahui bahwa Muhammad SAW bakal menjadi nabi, melalui berbagai ciri yang ada pada tubuh beliau, serta melalui informasi dari berbagai kitab suci yang pernah turun, namun sebelum turunnya Al-Quran, beliau SAW tetap belum sah menjadi nabi. Baru setelah Al-Quran ini turun saja, beliau kemudian secara resmi memiliki jabatan sebagai pembawa risalah dari langit. Sebagai seorang rasul dan juga nabi.

Namun para ulama berbeda pendapat tentang maksud bahwa malam Qadar itu adalah malam diturunkannya Al-Quran Al-Kariem. Apakah seluruh ayat Al-Quran turun di satu malam itu saja, ataukah yang dimaksud malam pertama kali turunnya Al-Quran.

Ibnu Abbas radhiyallahuanhu menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah peristiwa turunnya seluruh ayat Al-Quran dalam satu kali turun, yaitu dari Lauhil Mahfudz ke langit dunia atau sebutannya Baitul Izzah. [Al-Imam Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari, jilid 24 hal. 542]

Sedangkan Asy-Sya’bi menyebutkan bahwa yang dimaksud disini adalah bahwa di malam Qadar itu turun permulaan ayat Al-Quran ke muka bumi. [Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Quran, jilid 22 hal. 390]

Dan boleh jadi kedua-duanya tidak keliru. Sebab para ulama meyakini bahwa Al-Quran memang mengalami proses penurunan dua kali. Penurunan yang pertama adalah turunnya Al-Quran dari Lauhil Mahfudz ke langit dunia, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas.

Sedangkan penurunan yang kedua, dari langit dunia ke muka bumi, yang turunnya pertama kali hanya lima ayat penggalan awal dari surat Al-‘Alaq. Dan keduanya bisa saja terjadi pada malam Qadar, meski pada zaman yang berbeda.

Lebih Baik dari Seribu Bulan

Lailatul Qadar (لَيْلَةِ الْقَدْرِ) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, yang dalam Al-Quran digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Quran. Deskripsi tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al Qadar, surat ke-97 dalam Al Quran.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Qadar itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. Al-Qadar : 1-3)

Para ulama menetapkan bahwa bila seseorang beramal shalih di malam Qadar itu, maka dia akan mendapat pahala seperti melakukannya dalam 1000 bulan.

Turunnya Para Malaikat

Terusan ayat di atas adalah penegasan dari Allah SWT bahwa di malam itu turunlah para malaikat ke atas muka bumi.

Para malaikat danm ruh turun di malam itu dengan izin dari Tuhan mereka dengan segala urusan (QS. Al-Qadar : 4)

Al-Imam Al-Qurthubi menyebutkan bahwa dari setiap lapis langit dan juga dari Sidratil Muntaha, para malaikat turun ke bumi, untuk mengamini doa umat Islam yang dipanjatkan di sepanjang malam itu hingga terbitnya fajar, atau masuknya waktu shubuh.

Selain itu disebutkan bahwa para malaikat turun untuk membawa ketetapan taqdir untuk setahun ke depan. [Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Quran]

Keselamatan

Malam Qadar juga disebutkan dalam lanjutan ayat di atas sebagai malam yang ada di dalamnya keselamatan hingga terbitnya fajar.

Adh-Dhahhak berkata bahwa maksudnya pada malam itu Allah SWT tidak menetapkan sesuatu kecuali keselamatan hingga datangnya fajar. Sedangkan di malam lain, selain keselamatan juga Allah SWT menetapkan bala’.

Mujahid berkata bahwa maksudnya malam itu malam yang dimana setan tidak bisa melakukan perbuatan jahat dan keburukan. [Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Quran jilid 20 hal. 133]

Eksklusif Milik umat Muhammad SAW

Jumhur ulama sepakat bahwa keistimewaan malam Qadar ini hanya berlaku untuk umat Muhammad SAW saja. Sedangkan umat-umat terdahulu tidak mendapatkan keistimewaan ini. [Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, jilid 4 hal. 263]

Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Malik dalam Al-Muwaththa’

Rasulullah diperlihatkan umur-umur manusia sebelumnya -yang relatif panjang- sesuai dengan kehendak Allah, sampai (akhirnya) usia-usia umatnya semakin pendek (sehingga) mereka tidak bisa beramal lebih lama sebagaimana umat-umat sebelum mereka beramal karena panjangnya usia mereka. Maka Allah memberikan Rasulullah Lailatul Qadr yang lebih baik dari seribu bulan. (HR. Malik)

Hadits ini menjelaskan bahwa ditetapkannya malam Qadar setara dengan seribu bulan adalah sebagai fasilitas bagi umat Nabi Muhammad SAW bila ingin mendapatkan banyak pahala, sementara dibandingkan usia umat-umat terdahulu, usia mereka jauh lebih singkat.

Al-Quran menyebutkan bahwa usia Nabi Nuh alaihissalam itu 1000 tahun kurang lima puluh, alias 950 tahun.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Ankabut : 14)

Maka mereka yang dapat memanfaatkan fasilitas ini, tentu akan bisa bersaing dengan umat-umat terdahulu dalam mendapatkan jumlah pahala yang banyak. Selain itu juga ada kisah tentang seorang dari Bani Israil yang berjihad selama seribu bulan di masa lalu, sehingga membuat para shahabat iri.

“Ada seseorang dari Bani Israil yang menyandang senjata berjihad di jalan Allah selama 1000 bulan. Hal itu membuat umat Islam kagum. Maka Allah SWT menurunkan surat Inna anzalnahu fi lailatil qadr . . “. (HR. Al-Baihaqi)

Namun ada juga kalangan yang berpendapat bahwa malam Qadar ini sudah juga diberikan kepada umat sebelum kita, dengan dalil berikut ini :

Dari Abu Dzar radhiyallahuanhu berkata, ”Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah, beritahu aku tentang Lailatul Qadr, apakah malam itu pada bulan Ramadhan ataukah pada selainnya?” Beliau berkata: “Pada bulan Ramadhan”. (Abu Dzar) berkata, ”(Berarti sudah ada) bersama para nabi terdahulu? Lalu apakah setelah mereka wafat (malam Lailatul Qadr tersebut) diangkat? Ataukah malam tersebut akan tetap ada sampai hari Kiamat?” Nabi menjawab: “Akan tetap ada sampai hari kiamat. (HR. Ahmad)

Intinya para ulama tetap berbeda pendapat tentang kapan jatuhnya malam Qadar itu, karena perbedaan dalil yang mereka terima dan mereka pahami serta mereka jadikan bahan dasar ijtihad.

Sumber:

Ahmad Sarwat, Lc. MA., Jaminan Mendapat Lailatul Qada, (Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini